Minggu, 20 Maret 2016



            “ Deg, deg, deg…! ” Hening, hanya detak jantung yang menemani meski tak abadi, semua bergulat dengan perasaanya antara yakin atau tidak, antara siap atau memang terpaksa menyiapkan diri, namun aku rasa ini bukanlah keterpaksaan tapi justru ini semua pilihan yang tepat, tak ada satu kata yang terucap, mungkin hanya ribuan do’a yang tetap bergeming dalam hati. Final Exam ini ketiga kalinya  setelah aku gagal, memang puluhan bahkan ratusan pesaing yang harus aku kalahkan, tapi ada pesaing yang lebih kuat lagi, dan sampai saat ini aku belum yakin bisa mengalahkan nya, tapi afirmasi dan gema itu akan menguatkan ku.
            “ Erga, sampai kapan kamu mau mengurung diri di kamar, mimpi mu itu konyol, jauh dari logika, huh..seharusnya kamu menuruti saran papa sama mama ” kata-kata itu menikam ku,  dan entah berapa kalinya harus terdengar, selalu saja kata-kata itu memecahkan kesunyian, membuat emosi ku mulai memuncak, “ Brakkk…” terlalu keras aku menutup daun pintu, dan aku cukup yakin, mama mengerti kalau aku marah. “ gak ada yang mau ngertiin gue..”keluh ku lemah, pandangan kosong ku mengarah ke percikan air yang begitu memikat mata, aku sengaja mendatangi tempat ini, tempat yang penuh ketenangan, tempat yang begitu menghargai kedatangan ku, dan satu satunya tempat  yang tak pernah protes akan kegagalan ku,  lain dengan mereka yang selalu memojokkan ku, menolak semua mimpi-mimpi ku, bahkan mereka tidak pernah merelakan bahu nya di saat aku harus bersandar, yaa..mereka terlalu menginginkan ku menjadi apa yang mereka ingin kan, walaupun sebenarnya aku bisa, tapi itu bukan mimpi ku, bukan!

            “ Ga’ kamu terima saja tawaran itu, ” papa membuka mulut setelah kami beradu diam seraya menikmati sarapan pagi, aku masih membisu sengaja enggan menjawab. “ iya Ga’ kamu itu beruntung, banyak banget orang di luar sana yang harus ikut seleksi bahkan menyuap hanya untuk di terima di perusahaan asing, sementara kamu udah kuliah gratis, gaji nya tinggi Ga’, dan kamu akan lebih di hormati, kurang apa lagi coba?” mama terus mencoba menyakinkan ku, tapi sayang, tak ada satu kata pun yang terlontar, ku teguk segelas air putih, sebelum akhirnya aku bergegas meninggalkan rumah, “ Ga’ kamu mau kemana, gak sopan ya sama orang tua, eh dasar ” suara itu semakin samar, dan bukan hanya kali ini aku mengacuhkan papa dan mama, aku memang egois, dan itu semua karena mereka yang tidak menghargai keputusan ku, mereka menilai hidup ini tidak lagi dengan rupiah tapi dollar bahkan mereka sengaja ingin memperbudak ku hanya untuk mengikuti paham –isme yang negative, yaa..konsumerisme, materialism, hedonism, dan mungkin saja semua akan berubah menjadi sekulerisme bahkan atheis, aku tak bisa membanyangkan, jadi apa negeri ini ketika nasionalisme, patriotism harus terkikis habis hanya karena uang, tak heran jika negeri ini terkenal dengan para koruptornya, aku paham itu.

            “ Sherly, loe jadi buat ikut seleksi beasiswa di london  ” Tanya ku antusias, “ Jadi dong Ga’..gue udah tanda tangan kok, ”. “ terus, loe nerima tawaran beasiswa dari perusahaan itu, dan setelah itu loe akan kerja untuk nya? ” aku menatapnnya tak percaya, keputusan nya terlalu cepat, “ Erga, Erga,. Kesempatan itu gak datang dua kali ya..gue udah pikirin matang-matang, dan orang tua gue juga setuju ” jawabnya begitu yakin sambil menyerobot juice yang telah kami pesan tadi. “ dan loe masih juga gak mau nerima tawaran itu Ga’ ? padahal loe bebas tes ga, tinggal approval, loe bisa kuliah dan akhirnya loe bisa kerja ” “ Sorry Sher, gue gak mau diperkerjakan untuk mereka, gue akan mengabdi untuk negeri ini, gue akan cari beasiswa yang nantinnya tidak mengharuskan gue buat tinggal di luar negeri, mereka itu cuma memanfaatkan keahlian kita, dan perlahan negeri ini akan kehilangan cendekiawan nya, loe rela melihat negeri ini dijajah oleh rakyat nya sendiri ” aku mencoba mengungkapkan alasan ku dengan jelas, “ hahaha..terserah loe deh Ga’.. yang jelas usaha dan pengorbanan loe disini gak akan dihargai, buktinya gak ada kan pemerintah yang nawarin loe buat kuliah di jerman, dan secara tidak di minta perusahaan asing itu datang dan menawarkan beasiswa nya sekaligus prospect kedepannya, itu udah cukup nunjukin kalau mereka lebih menghargai loe ” sherly terus memojokkan ku, aku ingin menyanggah, namun kata-kata apa lagi yang mampu mengalahkan dollar, rasanya  tidak mungkin jika aku terus menggembor-gemborkan nasionalisme dan patriotisme di era modern ini.

            “ Pa, Ma, erga berangkat dulu ya..do’a in semoga erga kembali dengan segudang ilmu untuk negeri ini ” dengan kerendahan hati aku mencium tangan mereka, papa dan mama kali ini mengalah dan lebih mengikuti keinginan ku, hanya senyum yang aku dapat, aku tahu mereka mendukung ku. Aku sengaja memilih jalan yang begitu terjal dengan mata terbuka, karena sudah cukup lama, terpuruk, menutup mata dan telingga, bahkan aku membenci diri ku sendiri ditengah mereka juga membenci ku, dan mulai saat itu juga aku sadar, “ Loe terlalu bodoh erga,” teriak ku masih di tempat yang sama, air terjun dibalik bukit, mungkin hanya aku yang menemukan nya karena tempat itu benar-benar tersembunyi, dan baru kali ini aku mengeluarkan suara ditengah kegagalan ku yang ke dua, biasanya aku hanya diam, memandang air yang terus sama, berpikir dan meratap. “ Loe terlalu bodoh erga, ” suara itu menyusul dan terdengar berulang-ulang dan semakin samar, aku terkejut suara siapa itu, aku tahu betul tempat ini masih tersembunyi, ahh segera ku hapus pikiran horror ku, mana mungkin di dunia yang menganut paham ini ­–isme  ini masih ada hantu, terlalu konyol, “ siapa kau? ” dan suara itu terdengar lagi, persis menirukan apa yang aku ucap, “ jangan ganggu gue, ” teriak ku kesal, tempat ini mulai tidak bersahabat lagi, lantas aku harus lari kemana? “ jangan ganggu gue..” suara  itu terus menyusul setelah aku menutup mulut dan mencoba berfikir. “ Gue gak takut, ” dan sekali lagi kata itu harus terulang, aku menyerah dan memutuskan untuk diam, suasana kembali hening, tempat ini mulai menerima ku kembali, rasanya terlalu lama aku terdiam, di tempat yang sama dengan kegagalan yang sama, dan suasana yang sama, yang ada hanyalah cemoohan, dan aku benar-benar merindukan motivasi, hanya satu yang aku tahu, bahwa hidup ni adalah kesempatan yang harus di ambil, jalan yang harus di lalui dan teka-teki yang harus di pecahkan, dan saat ini juga aku harus memecahkan nya, aku merasa ada api yang menggelora di jiwa ini, pandangan kosong itu telah ku hapus jauh, bahkan aku berjanji tidak akan mendatangi tempat ini lagi, tempat yang telah membuat ku nyaman dan temapat yang telah memaksa ku untuk berdiam diri, dan saat nya aku harus kembali ke realita, “ Erga, loe pasti bisa ” teriak ku penuh semangat, “ Erga, loe pasti bisa ” suara itu terdengar bersahutan, menggema, dan baru kali ini ada yang medukung ku, tapi dari mana suara itu, “ semangat erga, ” seru ku sekali lagi, dan aku putuskan untuk meninggalkan tempat ini, “ Semangat Erga, ” dukungan itu terdengar lagi, aneh.. yaa aku baru bisa menyimpulkan, bagaimana aku bisa lupa, itu tadi kan suara ku yang menggema, aku tahu ternyata hidup ini bukan lah cermin yang harus bertolak belakang dengan fakta, tapi hidup ini adalah gema yang akan memeberikan apa yang telah kita berikan untuk dunia, aku sadar, selama ini aku hanya merindukan dukungan mereka dan aku terlalu mendengar kata-kata mereka yang menjatuhkan mimpi-mimpi ku, dan itu semua berhasil menghancurkan keyakinan ku, membuat ku terpuruk dan akhirnya mereka menertawakan ku, yaa itu semua dulu, sebelum akhirnya afirmasi dan gema itu datang, aku mulai bisa menyimpulkan motivasi terbesar tidak datang dari mereka, tapi dari jiwa kita sendiri, dan bersikap lah tuli kita mereka mengatakan TIDAK sementara hati mu IYA, karena itu salah satu cara mereka menjatuhkan mimpi mu.