Melukis
Senja
Indah
Purnamasari
“ Cukup
di anggap ada”, fiuh..aku benci rasa itu, rasa yang mengekangku, rasa yang
memaksa ku mencintai dalam diam, rasa yang tak mampu membuat ku setia pada satu
hati, dan rasa yang tak seharusnya ada, yahh sakit memang, ketika mencintai
tapi tak dicintai, ketika mencintai tapi di khianati, tapi bagaimana dengan
mencintai dalam diam, mencintai sebuah bayangan semu, sebuah angan, sebuah
keterlambatan, bukan karena bertepuk sebelah tangan ataupun cinta tak direstui,
tapi cinta yang sulit disatukan karna waktu yang lebih dulu menjawab.
Pada
kenyataannya, aku hanya mengagumimu dalam mimpi, menyebut nama mu dalam do’a,
dan memaksa menepis raut wajah mu dalam setiap sudut imajinasi yang semakin
lama justru membuat ku semakin cinta dan berharap suatu yang indah itu menyatu
tanpa harus menyakitinya, tanpa harus dia menyebutku penghianat, mana mungkin?
Tapi maaf, aku memang mencintai kalian.
*****
“ Akhi..apa kabar? ”,
“ baik, ” “ oh ya, kapan nikah? ”“ secepatnya, undangan udah aku buat ” Nadanya merendah, namun aku yakin ada
amarah yang terselip, aku paham, pertanyaan ku tentang ini terlalu sering aku
ajukan, dan baru kali ini aku menyesal, sebenarnya bukan jawaban itu yang aku
inginkan setelah sekian lama engkau membisu, “ segera menikah? ” yaa.. keputusan
mu memang tepat walaupun ada rasa yang membuat ku ingin berteriak tidak terima,
itu artinya kamu memberi ku kesempatan untuk
berhenti mencintai tanpa ku minta. Aku merasa lemah, setelah jawaban itu melayang
tanpa beban ditelinga ku, aku tertegun dan akhirnya satu kata yang tak seharusnya
terucap itu terungkap, “ Andaikan..” aku sontak kaged ketika secara spontan ia
mendekap ku, erat, begitu erat, hal yang tak pernah ku minta tapi selalu ku
rindukan, kalimat itu belum terlontar sempurna, tapi aku yakin, kamu tahu
kalimat apa itu, yah sebuah penyesalan dan keterlambatan untuk mengenal dan
menyatukan empat huruf itu, H A T I, dan
tanpa diminta air mata ini telah jatuh, rasanya begitu lain, jika saja ini sebuah
dentuman lagu akan ku tekan tombol pause,
aku akan berhenti dalam dekapan mu. Merenggang, dan akhirnya “ akhi, jangan ” ingin ku teriak, meminta
mu jangan lepaskan aku, tapi mana mungkin, itu terlalu menyakitkan.
Kring…kring….!!!
Kaged?
Tentu saja, alarm yang sengaja aku atur berhasil membawa ku kembali ke realita,
“ huhh..mimpi itu ” ku seka keringat dingin yang membahasi, detak jantungku
mulai tak teratur, tangan ini masih gemetar, apa aku benar-benar takut
kehilangan dia ? ini hanya mimpi, please deh jangan sepanik itu! Yaa.. ini
semua memang hanya mimpi, mimpi yang terlalu menyakitkan, mimpi yang sedikit
lagi memaksa ku untuk melepaskan tanpa mengiklaskan, sudahlah, mungkin aku hanya
merindukannya, sosok yang tak mampu membuat ku berhenti pada satu hati.
“
Assalamu’alaikum akhi, maaf, aku tadi
mimpiin kamu ” ku tekan tombol sent, berharap kata-kata indah segera aku baca.
Tapi nihil, balasan itu? Tidak ada, perasaan ku bergulat, segera ku beranjak
mengambil air wudlu berusaha mentralisir suasana.
*****
Ya..ya,
ya.. sengaja aku menganggukan kepala tanda setuju, tidak salah jika mereka
memilih untuk memperkerjakan diri, memeras keringat, mengalahkan semua ego
bahkan menggadaikan diri hanya karena uang, uang? Iya uang, dan akhirnya manusia
diperkerjakan, uanglah yang dicari dan produk yang akan dicintai, uanglah
pemeran utama segela sinema di dunia ini, bukan hanya untuk mereka, tapi kita,
bagaimana tidak? Dengan uang apapun bisa kita miliki, jangan kan barang-barang
mewah, hukum dan harga diri saja sudah bisa ditukar, hanya dengan uang.
Alunan
musik terus menghentak-hentak gendang telinga, kelap-kelip lampu nampak membuat
suasana ini sedikit remang-remang, di pojok sana seorang DJ terus beraksi,
dingin dan terasa dingin angin malam mulai menembus pori-pori, namun lain
dengan mereka yang memilih menggerakkan tubuh mengikuti irama yang menyesakkan
dada ditambah puluhan botol wine yang mungkin nantinya mereka teguk, lautan
manusia sengaja berjubel ditempat ini, tanpa risih memadu kasih diluar janji
suci, disisi lain mereka terus berdiri mengenakan seragam sedikit seksi,
ditambah make up menikmati setiap peran mereka di setiap pintu keluar
masuk yang memang telah disediakan. “ Selamat
datang, selamat datang, terimakasih ” itulah kata-kata umum yang terucap dari
bibir mereka yang selalu menarik tipis garis pipinya untuk tersenyum.
Aku
masih mematung, setelah cukup lama ku edarkan pandangan ini mulai dari pojok
sana hingga memutar, rasanya surga telah pindah ke dunia, yah walaupun surga
bagi mereka saja kaum borjuis, shop lover,
dan pemilik kantong tebal. Ribuan produk mulai untuk kaum proletar sampai
produk yang dirancang khusus versi
limited edition untuk borjuis sengaja dipasarkan ditempat ini, begitu
memikat mata, boneka cantik dengan warna-warni, bunga-bunga yang
melambai-lambai seakan menyuruh mata yang memendang untuk membelinya, jam
tangan eksotis dan aksesoris lainnya yang terlalu banyak untuk disebutkan.
Segala bentuk fashion, sepatu, tas yang semakin trendy dan modern mengikuti gaya barat, betapa kreatif nya jemari
mereka menghasilkan produk-produk yang mampu membutakan pembeli. “ hahh..”
keluh ku menghela napas panjang, pilihan yang tepat ketika mereka memilih
mencari uang, hanyalah uang yang laku saat ini, kata bijak yang menyatakan
bahwa kejujuran adalah mata uang yang laku dimana-mana, hanya omong kosong,
terkikis habis karena peradaban zaman yang semakin kompleks. Uang memang bukan
tuhan, aku hanya bisa mengelilingi produk-produk indah itu, bahkan aku sempat
berpikir untuk menikahi directure pemilik
mall ini. Ha ha ha, terlalu konyol..!
*****
“
Kenapa sih kamu gak bisa cintai aku dengan tulus, kenapa? Atau mungkin karena hubungan kita udah lama,
jadi kamu bosan, ha,? dan aku mulai sadar walaupun kamu selalu ada buat aku
tapi hati dan pikiran mu gak di sini lagi, tapi buat dia ” mulut ini masih
terkunci dan engkau sudah melesat jauh sebelum aku menjawab, aku bungkam seribu
bahasa, kata-kata itu terlalu menikam ku dan pada kenyataannya itu memang
benar, tidak ada yang perlu ku jelaskan lagi, memang semenjak kehadiran dia di
sela jarak puluhan kilo meter kita terpisah perlahan rasa itu hilang dan suatu
yang mustahil ketika aku harus lari dari kenyataan, meninggalkan mu untuk dia,
yaa walaupun…sudah lah terlalu sulit. Aku masih tertunduk lesu melihat punggung
mu naik turun membelakangi ku penuh emosi, “ Maafkan aku, ” hanya kata itu yang
mampu terucap, lirih bahkan aku sendiri tak sempat mendengarnya.
“
Kak, ini gimana, sulit ajarin dong ” aku membuka mulut setelah cukup lama ruangan
ini begitu hening, pagi kali ini begitu tak bersahabat, mentari pun tak
menampakkan diri, entah karena lelah atau keberadaannya yang terkadang
dirindukan dan bahkan disesali, hanya ada dua insan diruangan yang tak cukup
luas ini, terdiri dari tujuh perangkat komputer, dan bingkai foto yang tertata
rapi ditembok, aku masih menjalankan program Adobe Photoshop sebagai pemula dan
itu terlalu sulit, “ Sini aku ajarin ” jawabnya, meletakkan tangannya tepat
diatas punggung tangan ku yang sedari tadi memainkan mouse, rasanya begitu lain ada sesuatu yang berbeda dan baru kali
setelah delapan belas kali pertemuan, sstt retina ini saling bertemu pada satu
titik, entah titik apa itu? ingin ku segera mengalihkan pandangan, namun sayang
bola matamu terlalu indah, dan rasanya aku berada disuatu tempat yang
benar-benar membuat ku merasa nyaman, aku sadar tangan kanan mu masih menyatu
dengan tanganku, tanpa dikomando ada yang menyentuh halus pipi ku, “ aku
merindukan mu sayang, !” Rindu? Sayang? Kata-kata itu terlalu asing ditelinga
ku, dan kata-kata itulah yang akhirnya membawa ku ke realita, “ echm..echm..”
sengaja aku pura-pura tersedak hanya untuk mencairkan suasana, aku tau betul,
dia melihat ku menjadi sosok wanita yang selama ini pernah muncul dihidupnya,
dan yang terakhir aku dengar wanita itu telah menikah dengan laki-laki lain.
Sakit?
Tentu saja, ketika kita mencintai seseorang tetapi terabaikan atau entahlah,
tapi lebih sakit saat keberadaan kita terpaksa dianggap sama ketika mereka
telah kehilangan sosok yang begitu berharga munurutnya, iya sebuah pelampiasan
atau hanya disebut sebuah pelarian, dan akulah korbannya, aku yang terlalu
bodoh menganggap semua itu tulus, bahkan aku terlambat menyadari kalau aku
memang benar-benar bodoh hingga kebodohanku memaksa mencintainya, bahkan
terlalu nyaman ketika panggilan special itu melayang ditelingaku, dan hanya
dia.
******
“
Happy Brith Day For Me ”, ya 19 tahun bukanlah waktu yang mudah untuk bertahan
didunia ini, hanya sekedar bernapas. Aku tidak beda jauh dengan perempuan
lainnya yang mengharap perlakuan special
di hari ini, hah..rasanya terlalu sulit. Sampai detik ini aku masih mampu
berdiri adalah hal terindah, itu saja sudah cukup banyak hal dibelakang sana
yang begitu kelam hingga mengantarkan ku menjadi gadis gigih yang berusaha kuat
memperjuangkan toga dikota perantauan, ya kota Gadis ( perdagangan, pendidikan
dan industri) kota yang terkenal dengan kota pecel, kota yang menjadi saksi bisu
korban keganasan peristiwa G 30 S PKI dan kota yang semakin membuka mata ku
bahwa materialism, modernism,
sekulerisme, konsumerisme, dan hedonisme
itu benar-benar ada. Tegaknya aku hanya karena ayah, dan aku kuat hanya
karena beliau, siapa yang bisa menganggap remeh makna seorang ayah, kecuali
mereka yang belum mampu bersyukur ditengah kepahitan yang mendera. Ucapan
selamat dari sang kasih tercinta, boneka, coklat, bunga, dinner, mandi adonan kue, atau bahkan di buly habis-habisan, hahh..rasanya sudah menjadi kado yang menjamur,
itulah salah satu protes diriku yang sampai saat ini belum prnah menerima semua
itu, walaupun hanya sebuah ucapan. Malam ini aku masih termenung,
mengingat-ingat kasih tuhan yang selama ini belum aku syukuri, selalu minta dan
meminta, bahkan menghardik-Nya ketika aku merasa diuji. Tuhan. Terlalu singkat
hidup ini tapi dunia-Mu terlalu luas, “ Huacchh..” rasanya kantuk mulai
menyerang, bahkan dihari yang special itu aku tetap harus berjuang, hanya
sekedar untuk makan dan tidur secara gratis, tidak ingin protes. Aku menutup
pintu, manarik gordin dan sedikit membuka jendela, sengaja memberi jalan masuk
udara, aku tak bisa bernapas jika kamar ku harus tertutup rapat, hah, rasanya
seperti mau mati, pengap. Secepat mungkin aku mematikan lampu, dan kutarik
selimut untuk membalut tubuh ini, dingin, dan semakin dingin, bahkan malam
mulai larut tak ada makhluk yang mengeluarkan suara lagi, aku masih belum bisa
memejamkan mata, dada ini terlalu sesak, bahkan aku tak sanggup lagi menyembunyikan
luka diruangan yang tak begitu luas ini, tapi tak pernah protes dengan segala
keluh kesah ku. Bodohnya aku, terlalu berharap menjadi makmum dengan khusuknya
berdiri dibelakang setiap kali menghadap sang khaliq, mencium punggung tangan mu setiap kali seperti yang aku mau
sebagai tanda kebaktian ku, menunggu kecupan lembut mendarat dikening saat aku
ingin menjemput mimpi, menjamu mu makan malam dan menemani mu saat engkau
disibukkan oleh cahaya komputer sebagai tanggung jawab mu, wahai imam ku. “ hahaha…”
aku mencoba tertawa, sakit! Mata ku yang terasa pedih ini masih memandangi
beberapa kertas yang berserakan entah mengapa, salah satunya tertulis nama mu,
sempat ku lirik sebentar dan akhirnya aku tak mampu, ketika ku temui sepasang
wajah saling memandang begitu bahagia, harusnya itu aku. “ Huchhh.. ” aku
mengeluh panjang, aku masih belum mampu untuk berhenti mencintai meski dalam
diam.
“ Assalamu’alaikum, mhon maaf
sbelumnya dan langsung saja ya, kami sekeluarga mohon do’a restu karena insya
allah tanggal 25 september saya akan menikah ”setidaknya itu isi pesan yang aku
baca, samar-samar, mata ku mulai berkaca-kaca, Tuhan. hadiah mu terlalu indah.
Hanya mampu berharap semoga engkau bahagia Akhi, biarkan aku abadi bersama rasa
ini, dan tetap mencintai mu dalam diam, maaf, aku masih mengagumi mu, Khalifah
Hati.