Rabu, 28 Desember 2016
Kau tertawa begitu gagahnya dibalik warna mu yang semakin memudar dan sebentar lagi kau akan berubah, entah karena metamorfosa atau engkau bosan atau bahkan engkau ingin terlihat lebih menarik sehingga mereka semua memburu mu, termasuk aku!. begitu hebatnya engaku menjadi pemeran utama dalam sinema perubahan, selamat, aku menunduk seraya bertepuk tangan, hebat!. "tapi apa kau yakin bisa hidup tanpa ku?" tanya mu berkacak pinggang, seolah engkau pemilik kehidupan, aku masih belum yakin untuk menjawabnya, justru sederatan tanda tanya berkecamuk dalam pikiranku, lalu untuk apa aku kuliah? apakah dalam anganku tak terselip sedikitpun keinginan untuk memiliki mu? bohong, itu sangat bohong! lalu apakah aku harus menghukum diri atas kesalahan jutaan manusia yang menggilai mu?
Selasa, 27 Desember 2016
Mengagumi... hanya sebats itu, dan tetap akan mencintaimu dalam diam, mendo'akan mu dari kejauhan sampai akhirnya kita tidak akan pernah dipersatukan. aku telah merelakan mu, meski kadang memaksa ingatan ku kembali ke waktu itu, waktu dimana aku dan kamu masih memandang langit dan berpijak pada bumi yang sama, saat ini aku bersusah payah mengumpulkan kepingan kenangan yang sengaja kau biarkan berantakan, dan satunya lagi kau bawa untuk dia, itu artinya semua tidak bisa lagi utuh seperti senja itu, aku menelan ludah, sekedar untuk membasahi tenggorokan yang kering kian mencekat.
tetep saja, aku masih berusaha memilih kta-kata yang mampu menggambarkan gejolak ini, ku buang pandanganku jauh keluar, melepas semua penat dalam jiwa, dan masih menikmati indahnya senja yang tentunya berbeda debgab waktu, bahkan saat ini aku merasa jauh lebih buruk.
Kamis, 17 November 2016
Hidup
itu pilihan, kesempatan yang harus di ambil, jalan yang harus di tempuh, dan
teka-teki yang harus di pecahkan, hidup itu sederhana kawan, semua akan indah
pada waktunya, karena hidup itu gema yang akan memberi apa yang telah kita
berikan pada dunia, hidup adalah perjuangan, memperjuangkan hak-hak kita agar
kita tetap bertahan hidup, namun terkadang hidup itu munafik, egois, bahkan hidup itu tidak adil.
*****
Apa
sih arti hidup ini buat kalian? Sebuah kebetulan, atau sebuah takdir yang
mengharuskan kita ada di dunia ini tanpa di minta atau bahkan sebuah hal yang
mengerikan karena kita telah dilahirkan dan tidak bisa menolak? “ Andaikan
boleh memilih, aku tidak minta di lahirkan kok, aku benci dengan hidup ini,
buat apa aku hidup? ” dan kata-kata kasar kalian nya, tidak perlu di pungkiri
kawan, kata itu mungkin sudah pernah terbesit di pikiran kita, disaat kita
merasa hidup ini tidak adil ketika keberuntungan tidak berpihak pada kita,
ketika kita tidak bisa seperti mereka, ketika kita harus kembali merangkak
disaat mereka sudah mampu berjalan, ya itulah hidup ibarat sebuah jalan
terkadang terjal, landai, menukik tajam, ada lubang, berkelok-kelok, buntu dan berakhir pada jurang dan lembah
kenistaan.
Jika
hidup hanya untuk sekedar hidup, ingat lah kawan, babi hutan juga hidup, dan
jika hidup hanya sekedar untuk makan, ingat, hewan yang paling menjijikan juga
makan, apakah kita harus berdiam diri? Kawan, adakah diantara kalian yang
berpijak dimuka bumi ini tanpa tujuan berarti? Walaupun dunia ini hanya persinggahan,
tersenyumlah, menulislah dan melukislah maka dunia akan mengenalmu lebih dari
usia mu. Apakah kalian punya mimpi? Sama, aku juga punya, apakah kesuksesan
bagian dari mimpi terbesar anda dalam hidup ini? Apa yang harus kalian lakukan
untuk kesuksesan itu, dan bagaimana jika kalian lebih bahagia sebelum
menyandang gelar sukses?.
Ketika
tujuan hidup adalah sebuah kesuksesan, kesuksesan seperti apa yang kawan
inginkan? di hormati, di hargai, menilai hidup dengan dollar, punya jabatan,
pekerjaan yang mapan, apakah kesuksesan seperti ini? Hanya orang tertentu yang
tidak menginginkan hal tersebut, tapi ingatlah kawan, apa kah kalian tidak
merindukan kesuksesan yang berujung pada sebuah ketenangan? Karena hidup itu
keras, terkadang warna warni kehidupan telah merubah mu menjadi seseorang yang
bahkan kamu sendiri tidak mengenalnya.
Berbicara
tentang kesuksesan, disanalah kita akan menjemput sebuah kebahagiaan, lalu apa
sih tolak ukur kebahagian itu? Andai saja didunia ini ada yang menjual sebuah
kebahagian entah ribuan meter berapa yang antri untuk membeli, dan entah ribuan
berapa yang hanya terkapar tak berdaya karena harus membeli. Bahagia itu
sederhana kawan, tidak di nilai dengan rupiah, karena apa, ketika kebahagiaan
di nilai dengan rupiah hanya segelintir orang yang bisa menikmatinya.
Pernah
kah kalian merasa iri dengan mereka yang memang terlahir dari keluarga berada?
Ingin punya ini, ingin punya itu, dan ingin sekali rasanya mengikuti dunia yang
semakin modern ini, sama aku juga menginginkan hal tersebut, bahkan aku sempat
berpikir apakah aku harus memiliki apa yang mereka miliki agar aku bisa bergaul
dengan nya? Salah, semua itu salah, bersyukurlah kawan, menjadi diri sendiri
adalah hal terindah, ketika kita terlahir dari keluarga sederhana, karena
kesederhanaan tersebut membuat kita menghargai arti sebuah perjuangan dalam
kehidupan, dan aku yakin, kita lebih beruntung ketika kita masih mampu
menuliskan kata hati dan masih bisa membaca coretan-coretan di media sosial,
itu tanda nya kita masih bisa mengikuti modernism. Di luar sana masih banyak
hal yang mengerikan, hal yang lebih memilukan. Yaa… walaupun di satu sisi ada
mereka yang hidup lebih dari cukup, glamour,dan itu semua karena uang, siapa yang tak butuh
uang? Uang memang bukan tuhan, uang bukan segalanya tapi segala nya butuh uang,
hanya untuk mencapai kesuksesan kita butuh uang dan pada akhirnya puncak dari
kesuksesan itu juga yang kita cari ialah uang, buktinya ribuan pusat
perbelanjaan, penginapan hotel bintang lima, transportasi, bioskop, wahana
rekreasi bahkan sekolah-sekolah favorit atau perguruan tinggi ternama tanpa
sadar hanya diperuntukkan bagi mereka yang menggenggam uang, dan akhirnya
manusia diperkerjakan dan barang-barang di cintai, ini sebuah klimaks dari
keterbalikan, menghalalkan segala cara demi hedonism,
konsumerism, materialism dan,
modernism perlahan itu semua akan berubah menjadi sesuatu yang lebih
menyedihkan, iya sekulerisme dan
nantinya atheisme. Terlahir dalam
dunia materialism justru membuat kita
lebih mencintai uang dan sendi-sendi serta tulang kita hanya akan bergerak jika
semua gerakan itu dinilai dengan dollar, bukan lagi rupiah.
“
kami ingin sukses, maka kamu harus sekolah, tapi kami tidak punya uang? ” Apakah
kita harus mengajukan Proposal Aku Ingin Sekolah untuk sukses, ketika mereka
anak PNS selalu mendapatkan tunjangan, ketika mereka anak golongan atas bisa
menikmati suksesnya dunia, apakah kita harus terdiam dan hanya menjalani alur,
apakah kita selamanya akan tetap berada pada zona ini? Zona yang membelenggu,
mengekang semua mimpi hanya karena keterbatasan rupiah? Sukses tidak harus di
mulai karena gelar pendidikan yang kita sandang dan berapa lama kita mengeyam
bangku pendidikan, tapi berawal dari ketrampilan yang kita miliki kawan, ipa
dan matematika tidak menjadi tolak ukur kecerdasan yang akan membawa ke puncak
kesuksesan, karena multiple intelegence telah
diakui.
Ada
saat nya menunjukkan diri ketika kita terlalu lama menunggu di tunjuk, kenali
bakat mu, tekuni, dan yakini, dunia kalian tidak harus didunia pendidikan, dan
cita-cita kesuksesan kita tidak tergantung pada gelar yang kita sandang. Kemampuan
tanpa kepercayaan itu hampa, ini salah
satu protes ketika kita tidak pernah di anggap ada apalagi dihargai, hanya
karena tidak bisa menyamakan dengan trend-trend era sekarang, tempatkan diri
anda ditempat yang dihargai, karena ditempat itulah kita akan bertahan dan
terus berkarya. Apa yang kalian lakukan untuk sebuah kesuksesan? Hidup dengan
target? Memilih hidup tanpa target? dan membiarkan semua indah pada waktunya?, bukan
keputusan yang salah, tapi waktu tidak akan pernah tepat bagi mereka yang
menunggu kawan, berhentilah bermimpi dan mulailah beraksi, jemput masa depan
mu, perjuangkan hidup mu, karena di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin
selama keyakinan itu masih ada.
Ada
saatnya berhenti melangkah, menoleh kebelakang lalu bersyukur, berbahagialah
kawan, aku yakin siapa pun kalian yang membaca coretan tak berharga ini adalah
kalian-kalian yang beruntung, karena apa? Karena kita masih bernapas hingga
detik ini, masih bisa melihat, masih bisa merangkai kata dan tentunya kalian
sudah menikmati era modern ini. belajarlah dengan mereka diatasmu, jalani hari
mu dengan mereka disamping, hargai mereka dibawah mu.
bahagiakan
orang yang pernah memunculkan mu di dunia.
The End
Rabu, 07 September 2016
Past
of moment
“Huacchh..”
terpaksa aku harus menguap dan secepat mungkin aku menutupnya. jam menunjukkan pukul 04.00 pm. ku pandang suasana diluar yang dapat ditembus kaca tepat
disamping tempat duduk ku.
Kabut,
baru saja hujan mengguyur bumi, dingin, sesekali aku mencoba untuk
mengembalikan konsentrasi ku mendengarkan ceramah yang mendominasi gaya
mengajarnya, hah.. rasanya terlalu membosankan, ku tarik leher ini 30 derajat, cukup
menjangkau bagian terbelakang dari ruang kelas yang tak begitu luas ini, mencoba
mencari sumber kebisingan yang mengeruhkan telinga ku, namun pandangan ku
terhenti saat sepasang bola mata itu menatap ku sekilas, begitu lain. aku pun
segera mengalihkan pandanganku, seolah tidak terjadi apa-apa.Aku terdiam
sesaat, mencoba kembali berkonsentrasi
tapi pikiran ku melayang terbawa tatapan mata yang begitu singkat dan membuat
hati menahan kecewa.
Saat
aku pernah merasa memilikinya, pernah menganggap dia ada dalam hidup ku,” Babz,.”
sapanya setiap sms yang aku baca, aku pun tak sanggup untuk menyembunyikan rasa
ini, memaksa ku menjalani hubungan tanpa status, hari demi hari berlalu dengan
indah. disini aku mulai mengenali bahkan mengagumi sosok seorang dia, ”rela
berkorban” mungkin point itulah yang kadang membuatku terpenjara dalam
keyakinan yang salah. kadang aku merasa seakan perasaan telah mempermainkan ku,
namun aku tak mampu untuk mencari kepastian.
Dingin,
dan semakin dingin, ku tarik selimut, aku mencoba memejamkan mata, namun
bayangan itu tetap mengusik, hingga memaksa ku meraih ponsel. ingin ku mengirim
pesan singkat untuknya, namun rasanya terlalu malam, aku enggan mengganggu
mimpi indahnya, yang mungkin aku ada di dalamnya.
Hubungan
tanpa kepastian yang aku inginkan darinya ternyata menyiksa ku dalam diam, hingga
waktu membawa ketidakpastian pada titik klimaks. dia diam, dan semakin diam
lalu menjauh, aku pun mencoba melakukanya. tak pernah mengerti bahkan aku
sengaja tak ingin mengerti apa yang buat dia berubah, menjauh dan begitu tak
acuh hingga akhirnya kenyataan pahit pun harus aku telan.
“Hahaha…”
sebuah tawa yang akhirnya mengejutkan ku dan memaksa membawa ku kembali pada
realita, aku mencoba tersenyum menetralisir suasana, ku pandang teman di
sekelilingku tak terkecuali guru yang di depan ku, begitu liar..! akankah
mereka menertawakan ku? atau…ah aku pun tak ingin memperkeruh suasana.
Selasa, 06 September 2016
Ku
pandang langit yang terlalu indah karna kebersamaan, awan yang berjanji tak kan
pernah meninggalkan hujan, matahari yang tak pernah lelah, seperti kata dan
spasi yang saling melengkapi. Namun lebih indah disaat engkau masih milik ku,
terlalu jauh aku mengenalmu bahkan terlalu dalam aku jatuh di lubuk hati mu.
Aku tak pernah bisa melupakan mu meski pikiran ku telah beranjak pergi hingga
ku temui cinta sejati. Dalam setiap diam dan do’a ku hanya dirimu yang penuhi
sudut imajinasi ku. Yaaa.. semua ini hanya mimpi, mimpi yang begitu manis saat
engkau menyentuh halus pipi ini. “ I love you, ” katamu sepenuh hati. “ I love
you too” jawab ku segera, karna aku memang mencintai mu, dulu.
Ada
kalanya kita sampai disatu titik dimana kita harus PASRAH, DIAM, IKHLAS dan TIDAK
MEMIKIRKANNYA lagi.
Melukis
Senja
Indah
Purnamasari
“ Cukup
di anggap ada”, fiuh..aku benci rasa itu, rasa yang mengekangku, rasa yang
memaksa ku mencintai dalam diam, rasa yang tak mampu membuat ku setia pada satu
hati, dan rasa yang tak seharusnya ada, yahh sakit memang, ketika mencintai
tapi tak dicintai, ketika mencintai tapi di khianati, tapi bagaimana dengan
mencintai dalam diam, mencintai sebuah bayangan semu, sebuah angan, sebuah
keterlambatan, bukan karena bertepuk sebelah tangan ataupun cinta tak direstui,
tapi cinta yang sulit disatukan karna waktu yang lebih dulu menjawab.
Pada
kenyataannya, aku hanya mengagumimu dalam mimpi, menyebut nama mu dalam do’a,
dan memaksa menepis raut wajah mu dalam setiap sudut imajinasi yang semakin
lama justru membuat ku semakin cinta dan berharap suatu yang indah itu menyatu
tanpa harus menyakitinya, tanpa harus dia menyebutku penghianat, mana mungkin?
Tapi maaf, aku memang mencintai kalian.
*****
“ Akhi..apa kabar? ”,
“ baik, ” “ oh ya, kapan nikah? ”“ secepatnya, undangan udah aku buat ” Nadanya merendah, namun aku yakin ada
amarah yang terselip, aku paham, pertanyaan ku tentang ini terlalu sering aku
ajukan, dan baru kali ini aku menyesal, sebenarnya bukan jawaban itu yang aku
inginkan setelah sekian lama engkau membisu, “ segera menikah? ” yaa.. keputusan
mu memang tepat walaupun ada rasa yang membuat ku ingin berteriak tidak terima,
itu artinya kamu memberi ku kesempatan untuk
berhenti mencintai tanpa ku minta. Aku merasa lemah, setelah jawaban itu melayang
tanpa beban ditelinga ku, aku tertegun dan akhirnya satu kata yang tak seharusnya
terucap itu terungkap, “ Andaikan..” aku sontak kaged ketika secara spontan ia
mendekap ku, erat, begitu erat, hal yang tak pernah ku minta tapi selalu ku
rindukan, kalimat itu belum terlontar sempurna, tapi aku yakin, kamu tahu
kalimat apa itu, yah sebuah penyesalan dan keterlambatan untuk mengenal dan
menyatukan empat huruf itu, H A T I, dan
tanpa diminta air mata ini telah jatuh, rasanya begitu lain, jika saja ini sebuah
dentuman lagu akan ku tekan tombol pause,
aku akan berhenti dalam dekapan mu. Merenggang, dan akhirnya “ akhi, jangan ” ingin ku teriak, meminta
mu jangan lepaskan aku, tapi mana mungkin, itu terlalu menyakitkan.
Kring…kring….!!!
Kaged?
Tentu saja, alarm yang sengaja aku atur berhasil membawa ku kembali ke realita,
“ huhh..mimpi itu ” ku seka keringat dingin yang membahasi, detak jantungku
mulai tak teratur, tangan ini masih gemetar, apa aku benar-benar takut
kehilangan dia ? ini hanya mimpi, please deh jangan sepanik itu! Yaa.. ini
semua memang hanya mimpi, mimpi yang terlalu menyakitkan, mimpi yang sedikit
lagi memaksa ku untuk melepaskan tanpa mengiklaskan, sudahlah, mungkin aku hanya
merindukannya, sosok yang tak mampu membuat ku berhenti pada satu hati.
“
Assalamu’alaikum akhi, maaf, aku tadi
mimpiin kamu ” ku tekan tombol sent, berharap kata-kata indah segera aku baca.
Tapi nihil, balasan itu? Tidak ada, perasaan ku bergulat, segera ku beranjak
mengambil air wudlu berusaha mentralisir suasana.
*****
Ya..ya,
ya.. sengaja aku menganggukan kepala tanda setuju, tidak salah jika mereka
memilih untuk memperkerjakan diri, memeras keringat, mengalahkan semua ego
bahkan menggadaikan diri hanya karena uang, uang? Iya uang, dan akhirnya manusia
diperkerjakan, uanglah yang dicari dan produk yang akan dicintai, uanglah
pemeran utama segela sinema di dunia ini, bukan hanya untuk mereka, tapi kita,
bagaimana tidak? Dengan uang apapun bisa kita miliki, jangan kan barang-barang
mewah, hukum dan harga diri saja sudah bisa ditukar, hanya dengan uang.
Alunan
musik terus menghentak-hentak gendang telinga, kelap-kelip lampu nampak membuat
suasana ini sedikit remang-remang, di pojok sana seorang DJ terus beraksi,
dingin dan terasa dingin angin malam mulai menembus pori-pori, namun lain
dengan mereka yang memilih menggerakkan tubuh mengikuti irama yang menyesakkan
dada ditambah puluhan botol wine yang mungkin nantinya mereka teguk, lautan
manusia sengaja berjubel ditempat ini, tanpa risih memadu kasih diluar janji
suci, disisi lain mereka terus berdiri mengenakan seragam sedikit seksi,
ditambah make up menikmati setiap peran mereka di setiap pintu keluar
masuk yang memang telah disediakan. “ Selamat
datang, selamat datang, terimakasih ” itulah kata-kata umum yang terucap dari
bibir mereka yang selalu menarik tipis garis pipinya untuk tersenyum.
Aku
masih mematung, setelah cukup lama ku edarkan pandangan ini mulai dari pojok
sana hingga memutar, rasanya surga telah pindah ke dunia, yah walaupun surga
bagi mereka saja kaum borjuis, shop lover,
dan pemilik kantong tebal. Ribuan produk mulai untuk kaum proletar sampai
produk yang dirancang khusus versi
limited edition untuk borjuis sengaja dipasarkan ditempat ini, begitu
memikat mata, boneka cantik dengan warna-warni, bunga-bunga yang
melambai-lambai seakan menyuruh mata yang memendang untuk membelinya, jam
tangan eksotis dan aksesoris lainnya yang terlalu banyak untuk disebutkan.
Segala bentuk fashion, sepatu, tas yang semakin trendy dan modern mengikuti gaya barat, betapa kreatif nya jemari
mereka menghasilkan produk-produk yang mampu membutakan pembeli. “ hahh..”
keluh ku menghela napas panjang, pilihan yang tepat ketika mereka memilih
mencari uang, hanyalah uang yang laku saat ini, kata bijak yang menyatakan
bahwa kejujuran adalah mata uang yang laku dimana-mana, hanya omong kosong,
terkikis habis karena peradaban zaman yang semakin kompleks. Uang memang bukan
tuhan, aku hanya bisa mengelilingi produk-produk indah itu, bahkan aku sempat
berpikir untuk menikahi directure pemilik
mall ini. Ha ha ha, terlalu konyol..!
*****
“
Kenapa sih kamu gak bisa cintai aku dengan tulus, kenapa? Atau mungkin karena hubungan kita udah lama,
jadi kamu bosan, ha,? dan aku mulai sadar walaupun kamu selalu ada buat aku
tapi hati dan pikiran mu gak di sini lagi, tapi buat dia ” mulut ini masih
terkunci dan engkau sudah melesat jauh sebelum aku menjawab, aku bungkam seribu
bahasa, kata-kata itu terlalu menikam ku dan pada kenyataannya itu memang
benar, tidak ada yang perlu ku jelaskan lagi, memang semenjak kehadiran dia di
sela jarak puluhan kilo meter kita terpisah perlahan rasa itu hilang dan suatu
yang mustahil ketika aku harus lari dari kenyataan, meninggalkan mu untuk dia,
yaa walaupun…sudah lah terlalu sulit. Aku masih tertunduk lesu melihat punggung
mu naik turun membelakangi ku penuh emosi, “ Maafkan aku, ” hanya kata itu yang
mampu terucap, lirih bahkan aku sendiri tak sempat mendengarnya.
“
Kak, ini gimana, sulit ajarin dong ” aku membuka mulut setelah cukup lama ruangan
ini begitu hening, pagi kali ini begitu tak bersahabat, mentari pun tak
menampakkan diri, entah karena lelah atau keberadaannya yang terkadang
dirindukan dan bahkan disesali, hanya ada dua insan diruangan yang tak cukup
luas ini, terdiri dari tujuh perangkat komputer, dan bingkai foto yang tertata
rapi ditembok, aku masih menjalankan program Adobe Photoshop sebagai pemula dan
itu terlalu sulit, “ Sini aku ajarin ” jawabnya, meletakkan tangannya tepat
diatas punggung tangan ku yang sedari tadi memainkan mouse, rasanya begitu lain ada sesuatu yang berbeda dan baru kali
setelah delapan belas kali pertemuan, sstt retina ini saling bertemu pada satu
titik, entah titik apa itu? ingin ku segera mengalihkan pandangan, namun sayang
bola matamu terlalu indah, dan rasanya aku berada disuatu tempat yang
benar-benar membuat ku merasa nyaman, aku sadar tangan kanan mu masih menyatu
dengan tanganku, tanpa dikomando ada yang menyentuh halus pipi ku, “ aku
merindukan mu sayang, !” Rindu? Sayang? Kata-kata itu terlalu asing ditelinga
ku, dan kata-kata itulah yang akhirnya membawa ku ke realita, “ echm..echm..”
sengaja aku pura-pura tersedak hanya untuk mencairkan suasana, aku tau betul,
dia melihat ku menjadi sosok wanita yang selama ini pernah muncul dihidupnya,
dan yang terakhir aku dengar wanita itu telah menikah dengan laki-laki lain.
Sakit?
Tentu saja, ketika kita mencintai seseorang tetapi terabaikan atau entahlah,
tapi lebih sakit saat keberadaan kita terpaksa dianggap sama ketika mereka
telah kehilangan sosok yang begitu berharga munurutnya, iya sebuah pelampiasan
atau hanya disebut sebuah pelarian, dan akulah korbannya, aku yang terlalu
bodoh menganggap semua itu tulus, bahkan aku terlambat menyadari kalau aku
memang benar-benar bodoh hingga kebodohanku memaksa mencintainya, bahkan
terlalu nyaman ketika panggilan special itu melayang ditelingaku, dan hanya
dia.
******
“
Happy Brith Day For Me ”, ya 19 tahun bukanlah waktu yang mudah untuk bertahan
didunia ini, hanya sekedar bernapas. Aku tidak beda jauh dengan perempuan
lainnya yang mengharap perlakuan special
di hari ini, hah..rasanya terlalu sulit. Sampai detik ini aku masih mampu
berdiri adalah hal terindah, itu saja sudah cukup banyak hal dibelakang sana
yang begitu kelam hingga mengantarkan ku menjadi gadis gigih yang berusaha kuat
memperjuangkan toga dikota perantauan, ya kota Gadis ( perdagangan, pendidikan
dan industri) kota yang terkenal dengan kota pecel, kota yang menjadi saksi bisu
korban keganasan peristiwa G 30 S PKI dan kota yang semakin membuka mata ku
bahwa materialism, modernism,
sekulerisme, konsumerisme, dan hedonisme
itu benar-benar ada. Tegaknya aku hanya karena ayah, dan aku kuat hanya
karena beliau, siapa yang bisa menganggap remeh makna seorang ayah, kecuali
mereka yang belum mampu bersyukur ditengah kepahitan yang mendera. Ucapan
selamat dari sang kasih tercinta, boneka, coklat, bunga, dinner, mandi adonan kue, atau bahkan di buly habis-habisan, hahh..rasanya sudah menjadi kado yang menjamur,
itulah salah satu protes diriku yang sampai saat ini belum prnah menerima semua
itu, walaupun hanya sebuah ucapan. Malam ini aku masih termenung,
mengingat-ingat kasih tuhan yang selama ini belum aku syukuri, selalu minta dan
meminta, bahkan menghardik-Nya ketika aku merasa diuji. Tuhan. Terlalu singkat
hidup ini tapi dunia-Mu terlalu luas, “ Huacchh..” rasanya kantuk mulai
menyerang, bahkan dihari yang special itu aku tetap harus berjuang, hanya
sekedar untuk makan dan tidur secara gratis, tidak ingin protes. Aku menutup
pintu, manarik gordin dan sedikit membuka jendela, sengaja memberi jalan masuk
udara, aku tak bisa bernapas jika kamar ku harus tertutup rapat, hah, rasanya
seperti mau mati, pengap. Secepat mungkin aku mematikan lampu, dan kutarik
selimut untuk membalut tubuh ini, dingin, dan semakin dingin, bahkan malam
mulai larut tak ada makhluk yang mengeluarkan suara lagi, aku masih belum bisa
memejamkan mata, dada ini terlalu sesak, bahkan aku tak sanggup lagi menyembunyikan
luka diruangan yang tak begitu luas ini, tapi tak pernah protes dengan segala
keluh kesah ku. Bodohnya aku, terlalu berharap menjadi makmum dengan khusuknya
berdiri dibelakang setiap kali menghadap sang khaliq, mencium punggung tangan mu setiap kali seperti yang aku mau
sebagai tanda kebaktian ku, menunggu kecupan lembut mendarat dikening saat aku
ingin menjemput mimpi, menjamu mu makan malam dan menemani mu saat engkau
disibukkan oleh cahaya komputer sebagai tanggung jawab mu, wahai imam ku. “ hahaha…”
aku mencoba tertawa, sakit! Mata ku yang terasa pedih ini masih memandangi
beberapa kertas yang berserakan entah mengapa, salah satunya tertulis nama mu,
sempat ku lirik sebentar dan akhirnya aku tak mampu, ketika ku temui sepasang
wajah saling memandang begitu bahagia, harusnya itu aku. “ Huchhh.. ” aku
mengeluh panjang, aku masih belum mampu untuk berhenti mencintai meski dalam
diam.
“ Assalamu’alaikum, mhon maaf
sbelumnya dan langsung saja ya, kami sekeluarga mohon do’a restu karena insya
allah tanggal 25 september saya akan menikah ”setidaknya itu isi pesan yang aku
baca, samar-samar, mata ku mulai berkaca-kaca, Tuhan. hadiah mu terlalu indah.
Hanya mampu berharap semoga engkau bahagia Akhi, biarkan aku abadi bersama rasa
ini, dan tetap mencintai mu dalam diam, maaf, aku masih mengagumi mu, Khalifah
Hati.
Langganan:
Postingan (Atom)