Kamis, 25 Agustus 2016



Salah Siapa?

            “ Apa yang kalian lakukan di tempat seperti ini ? ” pertanyaan itu begitu memojokkan nadia bahkan ia tidak berkutik, yang jelas ia hanya tertunduk lemah, entah malu, menyesal atau alasan lainnya, ia hanya mampu pasrah ketika digiring SATPOL PP untuk dimintai penjelasan dan tentunya akan mendapat hadiah khusus yang bagi orang lain itu bukanlah hadiah istimewa tapi sesuatu yang memang harus dimiliki, moral, itulah hadiah yang dimaksud. Tidak hanya sendiri, kesembilan temannya juga terberingsut lemah menunggu antrian didikan moral dari pihak yang berwajib, bahkan dengan iklas mereka menerima semua pujian kasar dari orang tua nya, kecewa? Tentu saja, orang tua mana yang bangga melihat anaknya mengenakan almamater yang penuh coretan abstrak harus berhadapan dengan SATPOL PP, tindakan asusila, ya itu lah kasus yang menimpa nadia dan Sembilan temannya.
            “ Dasar, anak gak tahu diri, jadi ini yang kamu dapat setelah bapak dan ibu susah payah menyekolahkan mu 12 tahun, ha? ” belum sempat gadis itu menjawab tamparan tanpa dosa itu sudah melayang dipipinya, hah sakitnya..! tapi lebih sakit bahkan miris ketika orang tua melihat buah hatinya dalam kondisi yang tak pernah diharapkan sama sekali, dipojokkan sana nampak nadia sedang menyeka air matanya, namun nasi telah menjadi bubur, ada hal lain yang menyelinap dibenaknya, bukan karena ini ia lemah tapi ada hal yang lebih ia sesali untuk kesekian kalinya. Tinggal menunggu hitungan jam wajah-wajah mereka tertata rapi diberbagai media dan tentunya menjadi topik hangat yang mengerikan mewarnai insiden dua hari pasca pengumuman kelulusan tingkat SMA sederajat.
            Yaa..saat ini kecerdasan intelektual, pengetahuan umum berbasis teori, dan pendidikan bukanlah tolak ukur untuk meraup kesuksesan yang berujung pada rupiah, tapi yang lebih miris, pendidikan tidak lagi menunjukkan perbedaanya dalam berpikir, berbicara bahkan bertindak mereka begitu liar dan lebih liar meski pernah dijinakkan dalam dunia pendidikan, Tawuran antar pelajar, Party non institusi, klub malam, Narkoba dan tindakan asusila adalah contoh kecil dari perilaku negative yang mungkin saat ini menjadi bagian dari hidup, tidak ada yang patut kita salahkan. “ Suatu yang mustahil jika ingin merubah dunia sebelum kau percaya bisa merubah dirimu” kata bijak ini patut disetujui, terkadang di saat kita merasa nyaman bahkan merasa terbuai oleh keadaan seakan kita bebas dari tanggung jawab dan tuntutan hidup, kemunafikan membara, semua akan berubah drastis ketika kita harus kembali pada realita, inilah hidup yang belum mampu menghargai arti sebuah kebahagiaan.
***
            “ Selamat ya sayang, mama dan papa bangga punya anak seperti kamu ” tutur kedua orang tua itu begitu tulus dengan guratan senyum tanpa paksa, lalu dicium kening nya, nilainya memang cukup membanggakan, menyandang predikat ke empat, tentunya masih kalah dengan nadia sang pemilik nilai tertinggi angkatan tahun ini, namun sayang,  bahkan sangat bertolak belakang, tak ada yang mengucapkan selamat untuknya kecuali bu Ani, guru BK di sekolah itu, jelas saja bu Ani mengucapkan selamat, tidak cukup lima kali dalam seminggu nadia keluar masuk ruangan Bimbingan Konseling entah dengan tujuan apa.
            “ Huhh.. Percuma, bahkan mereka tidak pernah menganggap ku ada ” keluh nadia kesal, ia melesat keparkiran menghampiri mobilny, sempat terlintas dibenaknya untuk segera menuju apartemennya, “ Hey, nadia, selamat yaaa..” kata-kata itu secepat mungkin membuatnya terhenti, baru kali ini teman seangkatannya mengucapkan selamat, kecerdasan dan sifatnya yang terlalu individual sampai-sampai membuat nadia tidak punya teman, sesekali punya teman nongkrong cenderung cowok, nadia bukan tipe cewek tomboy, penampilannya pun feminim namun sikapnya terlalu dingin, ia lebih suka sendiri, di perpustakaan berteman dengan tumpukan buku tidak jelas atau sesekali dia terlihat sibuk di ruang kesenian, iya, melukis, itulah salah satu kegiatan yang cukup membuatnya sedikit tenang saat pikirannya kalut.
            “ Nad, kamu buru-buru pulang ya, ” Tanya rina penuh harap. “ iya, emang kenapa ” jawab nadia sekenanya, “ sekali-kali kita jalan dong nad, buat ngrayain kelulusan kita, lagian kamu pulang mau ngapain, tadi aja aku lihat yokap bokap mu gak datang kan” dengan lancar kata-kata itu keluar dari bibir rina tanpa ada rasa menyinggung sama sekali. Nadia masih terdiam, mungkin saja ia sedang mencerna apa yang diucapkan rina barusan, menyakitkan, tapi itulah kenyataannya, di hari yang special, hari yang seharusnya siswa-siswai SMA sederajat didampingi orang tuanya untuk membuka sebuah amplop perjuangan selama tiga tahun terakhir, dan tentunya ucapan selamat lah yang mereka inginkan sebagai tanda bahwa usaha nya dalam menakhlukan sulitnya matematika, rumitnya fisika bahkan apa itu bahasa dihargai  pada hari ini, tentu saja setidaknya nadia juga berharap demikian, naik kepanggung ketika namanya dipanggil, dan berada di antara papa dan mama tercinta, ditambah sorak tepuk tangan meriah, namun itu semua hanya imajinasi, ilusi dan sebuah harap yang terlalu mustahil untuk terwujud, dan kenyataanya nadia hanya berdiri sendiri diatas sana, menyandang predikat pertama cukup membanggakan, tapi apa artinya sebuah kemenangan ketika sebuah proses tak pernah dihargai dan dinilai, bahkan tidak ada yang tahu bagaimana sulitnya ketika kita mencoba kembali merangkak disaat mereka sudah mampu merjalan untuk mencapai sebuah gunung yanag menjulang tinggi,  huhh keluh nadia sekali lagi.
            “ Oke, kita mau kemana ” nadia membuka mulut, menyetujui ajakan rina, tentu saja bukan hanya ada rina disitu, “ sama siapa saja rin, ? ” nadia memicing. “ kita bakal rame-rame nad, tenang saja, pasti loe happy deh, gue yakin, sama anak SMA sebelah ” rina antusias menjelaskan, “ okey, kita berangkat sekarang, lagian gue udah males pulang nih, nanggung ” nadia mulai tertarik, mungkin dia lelah dengan keadaan yang selama ini memaksa nya untuk diam dan terus diam.
***
            “woe, baju gue, dasar loe rin, awas yaaa..” aldi mengambil paksa pewarna yang dipegang rina, lalu menyemprotkan goresan warna warna tak beraturan itu dimedia putih bersih yang terjaga selama tiga tahun ini, mereka membaur jadi satu, dan seterusnya seperti itu, kini baju yang mereka kenakan berubah bak media lukis, canda tawa mereka pun pecah, seakan tiada beban, bahkan pertanyaan mau kemana mereka setelah ini sudah terhapus bersih di otak mereka, menderitanya menghapal rumus hingga tengah malam hanya untuk sebuah kelulusan kini sudah tidak ada artinya, yang ada dibenak mereka hanyalah euphoria setelah saraf-saraf mereka menegang layaknya menghadapi eksekusi mati karena barang haram.
            “ Guys, jangan sia-siakan malam ini  ya, nikmati, oke ” teriak seseorang diatas sana, suaranya mulai parau bukan karena ingin menangis namun karena beberapa gelas wine yang nampak nya sudah mulai bereaksi, hentakan musik tak beraturan itu terus menusuk-nusuk  gendang telinga, kelap-kelip lampu disko membuat tempat ini lebih remang-remang, ditambah aroma wine yang menyesakkan dada, pasangan muda-mudi mulai larut dalam suasana, bahkan tingkahnya mulai liar, sepertinya party ini telah dirancang khusus, bahkan satu dari mereka sengaja menyewa tempat ini dengan uang yang tidak main-main, lalu apa yang mereka banggakan?
            Pendidikan karakter yang telah digembor-gemborkan selama ini hilang tak berbekas, yachh itulah kenyataannya, mata pelajaran pendidikan agama yang selama 12 tahun ini mereka telan telah ia muntahkan lebih dulu sebelum mereka kunyah, cerna dan melekat disetiap sendi-sendi kehidupan, lantas siapa yang harus disalahkan? Murnikah semua ini kesalahan mereka? Atau karena guru yang tidak becus? Tapi itulah kenyataannya pendidikan tak mampu lagi menujukkan eksistensinya.
            Malam mulai larut, jam sudah menujukkan pukul 02.00, mungkin anak-anak itu mulai lelah, aktivitas tarian yang mengikuti music disko tanpa aturan itu mulai selesai, mereka berpencar mencari tempat yang mereka anggap aman dan nyaman, apa yang mereka lakukan, ditempat yang sedikit gelap, larut malam, berdua, bahkan pikiran mereka telah dikendalikana berapa gelas wine yang telah mereka teguk, tentu saja bisa ditebak.! Nampak di halaman parkir nadia dan temannya mulai melangkah tak beraturan, tubuh mereka pun tak mampu lagi untuk berdiri tegak, didepannya sudah siap beberapa motor yang mungkin akan mereka kemudikan, jelas saja ada  lima motor, lima cowok dan lima cewek, entah telah direncanakan atau sebuah unsur ketidaksengajaan. “ Giman Guys, lanjut? ” seseorang nampak  meminta pendapat keteman-temannya, “ Lanjut dong, jangan disia-siakan kesempatan ini guys ” seseorang menambahkan, semangat mereka mengebu. Sebentar saja, motor yang mereka kemudikan telah memecah jalanan yang gelap dan sepi, bahkan kadang arah motor mereka tidak beraturan, terlalu berimpit, menepi dan kecepatan mereka tidak teratur, dan akhirnya mereka berhenti ditempat yang tidak begitu jelas.
***
            “ Ya Allah nak, kamu dimana, ibu khawatir ” suara nya melemah, air mata jernih itu tak hentinya menetes “ Tenang bu, besok kalau belum ada kabar kita lapor polisi ” cemas, khawatir, pengandaian yang tidak-tidak itulah yang memenuhi pikiran bapak ibu rina, gadis yang saat ini entah dibelahan bumi mana ia berada, sudah dua hari semalam setelah kelulusan belum menginjakkan kakinya dirumah, setiap ibunya mencoba menghubungi rina, nihil “ nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan ” entah berapa kali kata-kata itu terdengar. Lain dengan nadia, jangankan ada yang mencarinya, dikhawatirkan pun ia tidak pernah, bukan karena ia tidak punya keluarga tapi keberdaan kelurga tersebutlah yang hilang, bahkan nadia tidak tahu apa yang harus ia lakukan disaat ia benar-benar membutuhkan bahu untuk bersandar, yang ia tahu hanyalah berapa total uang yang ia terima, dan bagaimana susahnya bertahan hidup ketika keberadaan kita disesali bahkan tidak pernah dianggap ada.
            “ Ma, Pa, Nadia sadar, keberadaan nadia mungkin menjadi sebuah penyesalan buat kalian, dan yang nadia butuhkan bukanlah uang, uang dan hanya uang, nadia butuh sentuhan lembut mama, nadia butuh teguran papa, bukan berarti ketika mama dan papa telah menitipkan nadia didunia pendidikan itu berarti kalian lepas tanggung jawab, membiarkan kerasnya hidup ini menelan ku bulat-bulat, maaf pa, ma, nadia lelah dengan semua ini, dan nadia malu pernah muncul didunia ini, namun setidaknya nadia telah belajar, dan karena kalian lah anak mu seperti ini ” kata-kata itu termuat rapi disela-sela berita miris, nadia sengaja meminta redaksi untuk memuat isi hatinya, ia hanya tidak ingin apa yang ia alami saat ini harus dialami oleh anak-anak emas generasi penerus bangsa yang mungkin sama seperti dia, terlahir ditengah-tengah keluarga yang mengejar hedonisme.


Hahhh,,,kota sampah, atau Negeri sampah? Entahlah, tiba-tiba saja pandangan itu memunculkan pernyataan yang tak perlu dijawab hanya dengan iya atau bukan. sungai, Perumahan, atau pun bantaran kali? Bukan, hanya lapangan yang berada diengah-tengah kota yang nota band nya adalah kota pendidikan, cukup luas, butuh waktu sekitar 30 menit untuk melingkari lapangan itu, cukup untuk mengeluarkan keringat. Aku masih tertegun, tidak sedikit pun beranjak, bahkan kedatangan ku ditempat ini sama sekali bukan untuk jogging, terlalu siang, ku lirik jam ditanga kiri ku sudah menujukkan pukul 07.43, matahari sudah mulai muncul tanpamalu-malu lagi, bahkan mereka yang begitu menghargai kesehatan sudah mulai berhenti, duduk berselonjor, menyeka keringat, memulai obrolan ringan, menikmati aneka jajanan yang sengaja memenuhi tempat ini, meluruskan kedua kakinya, ssetelah cukup lelah memutari lapanga, ah tepatnya lapangan sampah. Berbicara tentang sampah, lalu siapa yang harus disalahkan? Andai saja laki-laki tua itu lelah, bosan, atau saja dia memutuskan untuk berhenti mencari rupiah? Bagaimana jika ia mulai jenuh melihat kerasnya dunia?. Huh…cukup membosankan, aku tak bisa membayangkan, dimana kalian semua? Kata-kata yang sempatkan kalian baca pertama kali membuka gerbang sebelum akhirnya masuk kelas “ Buanglah Sampah pada Tempatnya ”. Cukup dilihat, dibaca, dan lupakan. Begitulah, potret Indonesia, Negara yang kaya akan budaya, termasuk budaya slogan yang hanya tertata rapi sebagai embel-embel yang tak pernah dihargai.