Jumat, 01 April 2016





“Dek..” Sapanya ketika kita sengaja duduk besebelahan hampir tidak ada jarak. Sapaan itu terkesan asing di telingaa bahkan hati ku sulit mencerna, ”iya kak..” secepat mungkin aku menjawabnya. Ku tunggu jawaban darinya tapi hampa, hingga membuat ku memberanikan diri untuk menatapnya, pandangan itu begitu lain, wajah nya sayu, cukup meyakinkan ku untuk mengambil kesimpulan mungkin dia lelah.
Semenit ,dua menit, lima menit berlalu. Aku mulai menyadari gerak-geriknya yang begitu lain ketika ia mulai terlelap berusaha mengusir penat. Sengaja ku biarkan ia bersandar di bahu ku, enggan ku mengusiknya. Kembali ku fokuskan retina ini tepat menatap layar laptob untuk menyelesaikan tugas proyek, sementara didepan sana ia sedang menjelaskan sesuatu yang menurutku cukup membosankan. Tiba-tiba konsentrasi ku terusik, ketika teman disekeliling ku memandang begitu lain, aku hanya hampu tersenyum getir, cukup untuk menetralisir suasana.
***

“ Brakkk…” suara itu mengagetkan ku, terpaksa membuat ku mencari sumber bunyi. Sebuah tas ia letakkan di bangku yang cukup jauh dari ku, aku mencoba mencuri pandangannya. Sinis, sadis, jutek, acuh, itulah gambaran umum yang menggantikan senyuman manis diwajahnya. Ketenangan ku mulai terusik, hal itu terus berkelanjutan hingga titik klimaks, dimana aku hanya mampu menghakimi diri ku sendiri. Hidup ku monoton, lelah, bahkan aku merasa dibawah tekanan, tekanan energi cinta yang tak sengaja aku pindahkan dihatinya.
Waktu terus berputar, namun keadaan masih sama, aku belum mampu membuka mulut. Kegelisahan nyaris nampak diwajah ku yang aku sendiri pun tak mampu melihatnya, kau biarkan aku bergulat tanpa ada lawan, kau acuhkan aku bahkan kau terlihat begitu membenci ku, rasanya aku mulai lelah dengan sandiwara yang aku sutradarai sekaligus pemerannya.
Malam ini terlalu sepi, hening, langit pun tidak bersahabat, ku alihkan mata ini untuk menatap layar ponsel ku setelah cukup lama aku memandang foto itu, kenangan manis yang sulit dimengerti bahkan aku yakin kamu salah mengartikan, pikir ku dalam diam.
“ Dek..foto yuck ” ajak mu begitu manis, aku hanya mengiyakan, background kota yang cukup romatis dan kota yang menyimpan banyak kenangan walaupun hanya semalam aku, kamu dan mereka menghabiskan waktu disini sekedar mengusir lelah setelah seharian di sibukan dengan observasi zoo inver. dan akhirnya......?


Perahu Mu


            Menunggu itu menyebalkan ya kawan, apa lagi menunggu sebuah ketidakpastian antara iya atau tidak, antara lanjut atau berhenti, dan ribuan alasan lainnya, terlebih ketika kita memang harus benar-benar menunggu disaat mereka memberi isyarat yang mungkin tak perlu kita tanyakan lagi, ach sudahlah kawan, menunggu itu tanda Tanya.

            “ Tega ya kamu, udah puas… ” dan bla bla.. mungkin itu yang ada di benakmu, walaupun aku tak tahu persis apa yang terucap di batin mu, namun mata indah mu yang tiba-tiba keruh cukup meyakinkan ku, iya aku tahu, kamu terluka. Aku hanya mampu terdiam melihat perahu mu yang sedikit rusak entah karena badai atau hantaman keras batu karang, setelah sekian lama engkau berlayar dan aku tak tahu  pasti dimana perahu mu akan berlabuh, hanya saja yang aku tahu, terkadang engkau singgah di teluk-teluk yang indah, dan itu hanya sebentar, aku tak tahu pasti arah perahu mu. Ya.. aku salah satu korban, korban yang telah tertipu daya menyaksikan perahu mu, perahu yang tak begitu indah, tapi aku tahu, perahu itu cukup menenangkan ku saat aku pernah singgah disana, itu pun hanya sebentar, secepat mungkin perahu mu berubah arah, namun aku tetap menatap nya, karna aku percaya perahu itu akan menjemput ku untuk berlayar, tapi entah kapan itu, aku tidak yakin.

            “ Jea.. ” panggilan itu mengagetkan ku, namun tak terasa asing, memaksa ku membalik kan badan dan mencoba menatapnya dalam-dalam. “ iya kak, ada apa? ” Tanya ku antusias, wajar, aku tak ingin kehilangan moment berharga ini. “ tolong sampaikan ke teman-teman mu, pak Anjjar tidak bisa datang, nanti aku yang bakal mandu kalian praktikum ” mata ku tak beranjak sedikit pun dari wajah nya, wajah yang terlalu sayang untuk di tolak, jelas saja, juno menyandang predikat sebagai asdos selain dia mengetuai himpunan mahasiswa pendidikan fisika “ kamu mengerti kan? ” Tanya nya sekali  lagi, nada bicaranya ia tinggikan, rupanya ia mengerti kalau aku tidak fokus mendengarkannya. “ iya kak, ngerti ” aku tersenyum getir, mungkin dia tahu kalau aku mengaguminya. 

            “ Presentasikan hasil percobaan kalian per kelompok ” suaranya menggema di seluruh sudut ruangan, “ Jea, coba kelompok mu ” dia memanggilku, dan aku tahu pandangannya tidak mengarah pada ku, hanya nama JEA yang dia ucapkan. “ ha aku? ” Tanya ku ragu, fisika itu bukan lah yang mudah, terlebih kali ini praktikum mengenai termonidamika, tapi aku cukup  optimis, aku mewakili kelompok ku, hanya bermodalkan percaya diri aku cukup bisa menguasai ruangan, walaupun aku selalu melempar pertanyaan teman-teman ke juno, Asdos yang bisa di bilang keren,  aku mengakuinya.


            “ Kak, besok pagi-pagi banget aku ma temen-temen mau piknik ke kebun teh ” sengaja aku chat dia hanya sekedar memberi kabar, saat ini memang hanya dia yang special, bahkan sederatan daftar contact di ponsel ku, hanya chat dari nya yang ku harapkan, yach walaupun aku harus menunggu hitungan hari hanya untuk mendapat jawaban singkat dari nya, dia memang sibuk, toch aku bukan siapa-siapa nya, tidak mungkin ia menyediakan waktu khusus disela-sela kesibukan nya hanya untuk chat dengan ku, aku terima itu. “ Besok aku jemput ” aku sontak kaged membaca balasan dari nya, hal yang tak pernah aku duga, dan baru kali ini kami berbalas pesan cukup banyak, dia sengaja meluangkan waktu untuk ku katanya, sekaligus berhenti sejenak dari rutinitas yang begitu mengekang. Sengaja ku atur Alarm pukul 04.00 am, tidak seperti biasanya, aku ingin segera terlelap, dan berharap alarm segera membangun kan ku. Tentu saja, aku bangga, mungkin hanya aku wanita yang berhasil dekat dengan nya, dan aku mulai yakin ketika ia lebih dulu menghubungi ku, tapi sayang, saat itu chat nya hanya berisi teguran, dia menginginkan nilai fisika ku A, ach terlalu sulit rasanya. “ Kak, aku mau les privat dong, biar nilai ku A ” justru pesan ini yang aku kirimkan, aku masih ingat betul apa respon nya, ia mengiyakan. Satu kesempatan untuk mengenalnya lebih jauh pikir ku menyimpulkan. Sejak itulah aku mulai dekat dan benar-benar dekat dengan nya, walaupun kedekatan ini tak berarti apa-apa untuknya. Yachh mungkin kedekatan ini yang membuat ku terpenjara oleh keyakinan yang salah.