Hahhh,,,kota
sampah, atau Negeri sampah? Entahlah, tiba-tiba saja pandangan itu memunculkan
pernyataan yang tak perlu dijawab hanya dengan iya atau bukan. sungai, Perumahan,
atau pun bantaran kali? Bukan, hanya lapangan yang berada diengah-tengah kota
yang nota band nya adalah kota
pendidikan, cukup luas, butuh waktu sekitar 30 menit untuk melingkari lapangan
itu, cukup untuk mengeluarkan keringat. Aku masih tertegun, tidak sedikit pun
beranjak, bahkan kedatangan ku ditempat ini sama sekali bukan untuk jogging, terlalu siang, ku lirik jam
ditanga kiri ku sudah menujukkan pukul 07.43, matahari sudah mulai muncul
tanpamalu-malu lagi, bahkan mereka yang begitu menghargai kesehatan sudah mulai
berhenti, duduk berselonjor, menyeka keringat, memulai obrolan ringan,
menikmati aneka jajanan yang sengaja memenuhi tempat ini, meluruskan kedua
kakinya, ssetelah cukup lelah memutari lapanga, ah tepatnya lapangan sampah. Berbicara
tentang sampah, lalu siapa yang harus disalahkan? Andai saja laki-laki tua itu
lelah, bosan, atau saja dia memutuskan untuk berhenti mencari rupiah? Bagaimana
jika ia mulai jenuh melihat kerasnya dunia?. Huh…cukup membosankan, aku tak
bisa membayangkan, dimana kalian semua? Kata-kata yang sempatkan kalian baca
pertama kali membuka gerbang sebelum akhirnya masuk kelas “ Buanglah Sampah
pada Tempatnya ”. Cukup dilihat, dibaca, dan lupakan. Begitulah, potret
Indonesia, Negara yang kaya akan budaya, termasuk budaya slogan yang hanya
tertata rapi sebagai embel-embel yang
tak pernah dihargai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar