Kamis, 25 Agustus 2016



Hahhh,,,kota sampah, atau Negeri sampah? Entahlah, tiba-tiba saja pandangan itu memunculkan pernyataan yang tak perlu dijawab hanya dengan iya atau bukan. sungai, Perumahan, atau pun bantaran kali? Bukan, hanya lapangan yang berada diengah-tengah kota yang nota band nya adalah kota pendidikan, cukup luas, butuh waktu sekitar 30 menit untuk melingkari lapangan itu, cukup untuk mengeluarkan keringat. Aku masih tertegun, tidak sedikit pun beranjak, bahkan kedatangan ku ditempat ini sama sekali bukan untuk jogging, terlalu siang, ku lirik jam ditanga kiri ku sudah menujukkan pukul 07.43, matahari sudah mulai muncul tanpamalu-malu lagi, bahkan mereka yang begitu menghargai kesehatan sudah mulai berhenti, duduk berselonjor, menyeka keringat, memulai obrolan ringan, menikmati aneka jajanan yang sengaja memenuhi tempat ini, meluruskan kedua kakinya, ssetelah cukup lelah memutari lapanga, ah tepatnya lapangan sampah. Berbicara tentang sampah, lalu siapa yang harus disalahkan? Andai saja laki-laki tua itu lelah, bosan, atau saja dia memutuskan untuk berhenti mencari rupiah? Bagaimana jika ia mulai jenuh melihat kerasnya dunia?. Huh…cukup membosankan, aku tak bisa membayangkan, dimana kalian semua? Kata-kata yang sempatkan kalian baca pertama kali membuka gerbang sebelum akhirnya masuk kelas “ Buanglah Sampah pada Tempatnya ”. Cukup dilihat, dibaca, dan lupakan. Begitulah, potret Indonesia, Negara yang kaya akan budaya, termasuk budaya slogan yang hanya tertata rapi sebagai embel-embel yang tak pernah dihargai.
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar