Salah
Siapa?
“
Apa yang kalian lakukan di tempat seperti ini ? ” pertanyaan itu begitu
memojokkan nadia bahkan ia tidak berkutik, yang jelas ia hanya tertunduk lemah,
entah malu, menyesal atau alasan lainnya, ia hanya mampu pasrah ketika digiring
SATPOL PP untuk dimintai penjelasan dan tentunya akan mendapat hadiah khusus
yang bagi orang lain itu bukanlah hadiah istimewa tapi sesuatu yang memang
harus dimiliki, moral, itulah hadiah yang dimaksud. Tidak hanya sendiri,
kesembilan temannya juga terberingsut lemah menunggu antrian didikan moral dari
pihak yang berwajib, bahkan dengan iklas mereka menerima semua pujian kasar
dari orang tua nya, kecewa? Tentu saja, orang tua mana yang bangga melihat
anaknya mengenakan almamater yang penuh coretan abstrak harus berhadapan dengan
SATPOL PP, tindakan asusila, ya itu lah kasus yang menimpa nadia dan Sembilan
temannya.
“
Dasar, anak gak tahu diri, jadi ini yang kamu dapat setelah bapak dan ibu susah
payah menyekolahkan mu 12 tahun, ha? ” belum sempat gadis itu menjawab tamparan
tanpa dosa itu sudah melayang dipipinya, hah sakitnya..! tapi lebih sakit
bahkan miris ketika orang tua melihat buah hatinya dalam kondisi yang tak
pernah diharapkan sama sekali, dipojokkan sana nampak nadia sedang menyeka air
matanya, namun nasi telah menjadi bubur, ada hal lain yang menyelinap dibenaknya,
bukan karena ini ia lemah tapi ada hal yang lebih ia sesali untuk kesekian
kalinya. Tinggal menunggu hitungan jam wajah-wajah mereka tertata rapi
diberbagai media dan tentunya menjadi topik hangat yang mengerikan mewarnai
insiden dua hari pasca pengumuman kelulusan tingkat SMA sederajat.
Yaa..saat
ini kecerdasan intelektual, pengetahuan umum berbasis teori, dan pendidikan
bukanlah tolak ukur untuk meraup kesuksesan yang berujung pada rupiah, tapi
yang lebih miris, pendidikan tidak lagi menunjukkan perbedaanya dalam berpikir,
berbicara bahkan bertindak mereka begitu liar dan lebih liar meski pernah dijinakkan
dalam dunia pendidikan, Tawuran antar pelajar, Party non institusi, klub malam,
Narkoba dan tindakan asusila adalah contoh kecil dari perilaku negative yang
mungkin saat ini menjadi bagian dari hidup, tidak ada yang patut kita salahkan.
“ Suatu yang mustahil jika ingin merubah dunia sebelum kau percaya bisa merubah
dirimu” kata bijak ini patut disetujui, terkadang di saat kita merasa nyaman
bahkan merasa terbuai oleh keadaan seakan kita bebas dari tanggung jawab dan
tuntutan hidup, kemunafikan membara, semua akan berubah drastis ketika kita
harus kembali pada realita, inilah hidup yang belum mampu menghargai arti
sebuah kebahagiaan.
***
“
Selamat ya sayang, mama dan papa bangga punya anak seperti kamu ” tutur kedua
orang tua itu begitu tulus dengan guratan senyum tanpa paksa, lalu dicium
kening nya, nilainya memang cukup membanggakan, menyandang predikat ke empat, tentunya
masih kalah dengan nadia sang pemilik nilai tertinggi angkatan tahun ini, namun
sayang, bahkan sangat bertolak belakang,
tak ada yang mengucapkan selamat untuknya kecuali bu Ani, guru BK di sekolah
itu, jelas saja bu Ani mengucapkan selamat, tidak cukup lima kali dalam
seminggu nadia keluar masuk ruangan Bimbingan Konseling entah dengan tujuan apa.
“
Huhh.. Percuma, bahkan mereka tidak pernah menganggap ku ada ” keluh nadia
kesal, ia melesat keparkiran menghampiri mobilny, sempat terlintas dibenaknya
untuk segera menuju apartemennya, “ Hey, nadia, selamat yaaa..” kata-kata itu
secepat mungkin membuatnya terhenti, baru kali ini teman seangkatannya
mengucapkan selamat, kecerdasan dan sifatnya yang terlalu individual
sampai-sampai membuat nadia tidak punya teman, sesekali punya teman nongkrong cenderung
cowok, nadia bukan tipe cewek tomboy, penampilannya pun feminim namun sikapnya
terlalu dingin, ia lebih suka sendiri, di perpustakaan berteman dengan tumpukan
buku tidak jelas atau sesekali dia terlihat sibuk di ruang kesenian, iya,
melukis, itulah salah satu kegiatan yang cukup membuatnya sedikit tenang saat
pikirannya kalut.
“
Nad, kamu buru-buru pulang ya, ” Tanya rina penuh harap. “ iya, emang kenapa ”
jawab nadia sekenanya, “ sekali-kali kita jalan dong nad, buat ngrayain
kelulusan kita, lagian kamu pulang mau ngapain, tadi aja aku lihat yokap bokap mu
gak datang kan” dengan lancar kata-kata itu keluar dari bibir rina tanpa ada
rasa menyinggung sama sekali. Nadia masih terdiam, mungkin saja ia sedang
mencerna apa yang diucapkan rina barusan, menyakitkan, tapi itulah
kenyataannya, di hari yang special, hari yang seharusnya siswa-siswai SMA
sederajat didampingi orang tuanya untuk membuka sebuah amplop perjuangan selama
tiga tahun terakhir, dan tentunya ucapan selamat lah yang mereka inginkan
sebagai tanda bahwa usaha nya dalam menakhlukan sulitnya matematika, rumitnya
fisika bahkan apa itu bahasa dihargai
pada hari ini, tentu saja setidaknya nadia juga berharap demikian, naik
kepanggung ketika namanya dipanggil, dan berada di antara papa dan mama
tercinta, ditambah sorak tepuk tangan meriah, namun itu semua hanya imajinasi,
ilusi dan sebuah harap yang terlalu mustahil untuk terwujud, dan kenyataanya
nadia hanya berdiri sendiri diatas sana, menyandang predikat pertama cukup
membanggakan, tapi apa artinya sebuah kemenangan ketika sebuah proses tak
pernah dihargai dan dinilai, bahkan tidak ada yang tahu bagaimana sulitnya
ketika kita mencoba kembali merangkak disaat mereka sudah mampu merjalan untuk
mencapai sebuah gunung yanag menjulang tinggi, huhh keluh nadia sekali lagi.
“ Oke,
kita mau kemana ” nadia membuka mulut, menyetujui ajakan rina, tentu saja bukan
hanya ada rina disitu, “ sama siapa saja rin, ? ” nadia memicing. “ kita bakal
rame-rame nad, tenang saja, pasti loe happy deh, gue yakin, sama anak SMA
sebelah ” rina antusias menjelaskan, “ okey, kita berangkat sekarang, lagian
gue udah males pulang nih, nanggung ” nadia mulai tertarik, mungkin dia lelah
dengan keadaan yang selama ini memaksa nya untuk diam dan terus diam.
***
“woe,
baju gue, dasar loe rin, awas yaaa..” aldi mengambil paksa pewarna yang dipegang rina, lalu menyemprotkan
goresan warna warna tak beraturan itu dimedia putih bersih yang terjaga selama
tiga tahun ini, mereka membaur jadi satu, dan seterusnya seperti itu, kini baju
yang mereka kenakan berubah bak media lukis, canda tawa mereka pun pecah,
seakan tiada beban, bahkan pertanyaan mau kemana mereka setelah ini sudah terhapus
bersih di otak mereka, menderitanya menghapal rumus hingga tengah malam hanya
untuk sebuah kelulusan kini sudah tidak ada artinya, yang ada dibenak mereka
hanyalah euphoria setelah saraf-saraf
mereka menegang layaknya menghadapi eksekusi mati karena barang haram.
“
Guys, jangan sia-siakan malam ini ya,
nikmati, oke ” teriak seseorang diatas sana, suaranya mulai parau bukan karena
ingin menangis namun karena beberapa gelas wine yang nampak nya sudah mulai
bereaksi, hentakan musik tak beraturan itu terus menusuk-nusuk gendang telinga, kelap-kelip lampu disko
membuat tempat ini lebih remang-remang, ditambah aroma wine yang menyesakkan
dada, pasangan muda-mudi mulai larut dalam suasana, bahkan tingkahnya mulai
liar, sepertinya party ini telah
dirancang khusus, bahkan satu dari mereka sengaja menyewa tempat ini dengan
uang yang tidak main-main, lalu apa yang mereka banggakan?
Pendidikan
karakter yang telah digembor-gemborkan selama ini hilang tak berbekas, yachh
itulah kenyataannya, mata pelajaran pendidikan agama yang selama 12 tahun ini
mereka telan telah ia muntahkan lebih dulu sebelum mereka kunyah, cerna dan
melekat disetiap sendi-sendi kehidupan, lantas siapa yang harus disalahkan?
Murnikah semua ini kesalahan mereka? Atau karena guru yang tidak becus? Tapi
itulah kenyataannya pendidikan tak mampu lagi menujukkan eksistensinya.
Malam
mulai larut, jam sudah menujukkan pukul 02.00, mungkin anak-anak itu mulai
lelah, aktivitas tarian yang mengikuti music disko tanpa aturan itu mulai
selesai, mereka berpencar mencari tempat yang mereka anggap aman dan nyaman,
apa yang mereka lakukan, ditempat yang sedikit gelap, larut malam, berdua,
bahkan pikiran mereka telah dikendalikana berapa gelas wine yang telah mereka
teguk, tentu saja bisa ditebak.! Nampak di halaman parkir nadia dan temannya
mulai melangkah tak beraturan, tubuh mereka pun tak mampu lagi untuk berdiri
tegak, didepannya sudah siap beberapa motor yang mungkin akan mereka kemudikan,
jelas saja ada lima motor, lima cowok
dan lima cewek, entah telah direncanakan atau sebuah unsur ketidaksengajaan. “
Giman Guys, lanjut? ” seseorang nampak
meminta pendapat keteman-temannya, “ Lanjut dong, jangan disia-siakan
kesempatan ini guys ” seseorang menambahkan, semangat mereka mengebu. Sebentar
saja, motor yang mereka kemudikan telah memecah jalanan yang gelap dan sepi,
bahkan kadang arah motor mereka tidak beraturan, terlalu berimpit, menepi dan
kecepatan mereka tidak teratur, dan akhirnya mereka berhenti ditempat yang
tidak begitu jelas.
***
“ Ya
Allah nak, kamu dimana, ibu khawatir ” suara nya melemah, air mata jernih itu
tak hentinya menetes “ Tenang bu, besok kalau belum ada kabar kita lapor polisi
” cemas, khawatir, pengandaian yang tidak-tidak itulah yang memenuhi pikiran
bapak ibu rina, gadis yang saat ini entah dibelahan bumi mana ia berada, sudah
dua hari semalam setelah kelulusan belum menginjakkan kakinya dirumah, setiap
ibunya mencoba menghubungi rina, nihil “ nomor yang anda tuju sedang tidak
aktif atau berada diluar jangkauan ” entah berapa kali kata-kata itu terdengar.
Lain dengan nadia, jangankan ada yang mencarinya, dikhawatirkan pun ia tidak
pernah, bukan karena ia tidak punya keluarga tapi keberdaan kelurga tersebutlah
yang hilang, bahkan nadia tidak tahu apa yang harus ia lakukan disaat ia
benar-benar membutuhkan bahu untuk bersandar, yang ia tahu hanyalah berapa
total uang yang ia terima, dan bagaimana susahnya bertahan hidup ketika
keberadaan kita disesali bahkan tidak pernah dianggap ada.
“
Ma, Pa, Nadia sadar, keberadaan nadia mungkin menjadi sebuah penyesalan buat
kalian, dan yang nadia butuhkan bukanlah uang, uang dan hanya uang, nadia butuh
sentuhan lembut mama, nadia butuh teguran papa, bukan berarti ketika mama dan
papa telah menitipkan nadia didunia pendidikan itu berarti kalian lepas
tanggung jawab, membiarkan kerasnya hidup ini menelan ku bulat-bulat, maaf pa,
ma, nadia lelah dengan semua ini, dan nadia malu pernah muncul didunia ini,
namun setidaknya nadia telah belajar, dan karena kalian lah anak mu seperti ini
” kata-kata itu termuat rapi disela-sela berita miris, nadia sengaja meminta
redaksi untuk memuat isi hatinya, ia hanya tidak ingin apa yang ia alami saat
ini harus dialami oleh anak-anak emas generasi penerus bangsa yang mungkin sama
seperti dia, terlahir ditengah-tengah keluarga yang mengejar hedonisme.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar