Selasa, 06 September 2016



Melukis Senja
Indah Purnamasari

            “ Cukup di anggap ada”, fiuh..aku benci rasa itu, rasa yang mengekangku, rasa yang memaksa ku mencintai dalam diam, rasa yang tak mampu membuat ku setia pada satu hati, dan rasa yang tak seharusnya ada, yahh sakit memang, ketika mencintai tapi tak dicintai, ketika mencintai tapi di khianati, tapi bagaimana dengan mencintai dalam diam, mencintai sebuah bayangan semu, sebuah angan, sebuah keterlambatan, bukan karena bertepuk sebelah tangan ataupun cinta tak direstui, tapi cinta yang sulit disatukan karna waktu yang lebih dulu menjawab.
            Pada kenyataannya, aku hanya mengagumimu dalam mimpi, menyebut nama mu dalam do’a, dan memaksa menepis raut wajah mu dalam setiap sudut imajinasi yang semakin lama justru membuat ku semakin cinta dan berharap suatu yang indah itu menyatu tanpa harus menyakitinya, tanpa harus dia menyebutku penghianat, mana mungkin? Tapi maaf, aku memang mencintai kalian.
*****
Akhi..apa kabar? ”,  baik,  oh ya, kapan nikah? ”“ secepatnya, undangan udah aku buat Nadanya merendah, namun aku yakin ada amarah yang terselip, aku paham, pertanyaan ku tentang ini terlalu sering aku ajukan, dan baru kali ini aku menyesal, sebenarnya bukan jawaban itu yang aku inginkan setelah sekian lama engkau membisu, “ segera menikah? ” yaa.. keputusan mu memang tepat walaupun ada rasa yang membuat ku ingin berteriak tidak terima, itu artinya kamu memberi ku  kesempatan untuk berhenti mencintai tanpa ku minta. Aku merasa lemah, setelah jawaban itu melayang tanpa beban ditelinga ku, aku tertegun dan akhirnya satu kata yang tak seharusnya terucap itu terungkap, “ Andaikan..” aku sontak kaged ketika secara spontan ia mendekap ku, erat, begitu erat, hal yang tak pernah ku minta tapi selalu ku rindukan, kalimat itu belum terlontar sempurna, tapi aku yakin, kamu tahu kalimat apa itu, yah sebuah penyesalan dan keterlambatan untuk mengenal dan menyatukan empat huruf itu, H A T I,  dan tanpa diminta air mata ini telah jatuh, rasanya begitu lain, jika saja ini sebuah dentuman lagu akan ku tekan tombol pause, aku akan berhenti dalam dekapan mu. Merenggang, dan akhirnya “ akhi, jangan ” ingin ku teriak, meminta mu jangan lepaskan aku, tapi mana mungkin, itu terlalu menyakitkan.
            Kring…kring….!!!
            Kaged? Tentu saja, alarm yang sengaja aku atur berhasil membawa ku kembali ke realita, “ huhh..mimpi itu ” ku seka keringat dingin yang membahasi, detak jantungku mulai tak teratur, tangan ini masih gemetar, apa aku benar-benar takut kehilangan dia ? ini hanya mimpi, please deh jangan sepanik itu! Yaa.. ini semua memang hanya mimpi, mimpi yang terlalu menyakitkan, mimpi yang sedikit lagi memaksa ku untuk melepaskan tanpa mengiklaskan, sudahlah, mungkin aku hanya merindukannya, sosok yang tak mampu membuat ku berhenti pada satu hati.
            “ Assalamu’alaikum akhi, maaf, aku tadi mimpiin kamu ” ku tekan tombol sent, berharap kata-kata indah segera aku baca. Tapi nihil, balasan itu? Tidak ada, perasaan ku bergulat, segera ku beranjak mengambil air wudlu berusaha mentralisir suasana.
*****
            Ya..ya, ya.. sengaja aku menganggukan kepala tanda setuju, tidak salah jika mereka memilih untuk memperkerjakan diri, memeras keringat, mengalahkan semua ego bahkan menggadaikan diri hanya karena uang, uang? Iya uang, dan akhirnya manusia diperkerjakan, uanglah yang dicari dan produk yang akan dicintai, uanglah pemeran utama segela sinema di dunia ini, bukan hanya untuk mereka, tapi kita, bagaimana tidak? Dengan uang apapun bisa kita miliki, jangan kan barang-barang mewah, hukum dan harga diri saja sudah bisa ditukar, hanya dengan uang.
            Alunan musik terus menghentak-hentak gendang telinga, kelap-kelip lampu nampak membuat suasana ini sedikit remang-remang, di pojok sana seorang DJ terus beraksi, dingin dan terasa dingin angin malam mulai menembus pori-pori, namun lain dengan mereka yang memilih menggerakkan tubuh mengikuti irama yang menyesakkan dada ditambah puluhan botol wine yang mungkin nantinya mereka teguk, lautan manusia sengaja berjubel ditempat ini, tanpa risih memadu kasih diluar janji suci, disisi lain mereka terus berdiri mengenakan seragam sedikit seksi, ditambah make up  menikmati setiap peran mereka di setiap pintu keluar masuk yang memang  telah disediakan. “ Selamat datang, selamat datang, terimakasih ” itulah kata-kata umum yang terucap dari bibir mereka yang selalu menarik tipis garis pipinya untuk tersenyum.
            Aku masih mematung, setelah cukup lama ku edarkan pandangan ini mulai dari pojok sana hingga memutar, rasanya surga telah pindah ke dunia, yah walaupun surga bagi mereka saja kaum borjuis, shop lover, dan pemilik kantong tebal. Ribuan produk mulai untuk kaum proletar sampai produk yang dirancang khusus versi limited edition untuk borjuis sengaja dipasarkan ditempat ini, begitu memikat mata, boneka cantik dengan warna-warni, bunga-bunga yang melambai-lambai seakan menyuruh mata yang memendang untuk membelinya, jam tangan eksotis dan aksesoris lainnya yang terlalu banyak untuk disebutkan. Segala bentuk fashion, sepatu, tas yang semakin trendy dan modern mengikuti gaya barat, betapa kreatif nya jemari mereka menghasilkan produk-produk yang mampu membutakan pembeli. “ hahh..” keluh ku menghela napas panjang, pilihan yang tepat ketika mereka memilih mencari uang, hanyalah uang yang laku saat ini, kata bijak yang menyatakan bahwa kejujuran adalah mata uang yang laku dimana-mana, hanya omong kosong, terkikis habis karena peradaban zaman yang semakin kompleks. Uang memang bukan tuhan, aku hanya bisa mengelilingi produk-produk indah itu, bahkan aku sempat berpikir untuk menikahi directure pemilik mall  ini. Ha ha ha, terlalu konyol..!
*****
            “ Kenapa sih kamu gak bisa cintai aku dengan tulus, kenapa?  Atau mungkin karena hubungan kita udah lama, jadi kamu bosan, ha,? dan aku mulai sadar walaupun kamu selalu ada buat aku tapi hati dan pikiran mu gak di sini lagi, tapi buat dia ” mulut ini masih terkunci dan engkau sudah melesat jauh sebelum aku menjawab, aku bungkam seribu bahasa, kata-kata itu terlalu menikam ku dan pada kenyataannya itu memang benar, tidak ada yang perlu ku jelaskan lagi, memang semenjak kehadiran dia di sela jarak puluhan kilo meter kita terpisah perlahan rasa itu hilang dan suatu yang mustahil ketika aku harus lari dari kenyataan, meninggalkan mu untuk dia, yaa walaupun…sudah lah terlalu sulit. Aku masih tertunduk lesu melihat punggung mu naik turun membelakangi ku penuh emosi, “ Maafkan aku, ” hanya kata itu yang mampu terucap, lirih bahkan aku sendiri tak sempat mendengarnya.
            “ Kak, ini gimana, sulit ajarin dong ” aku membuka mulut setelah cukup lama ruangan ini begitu hening, pagi kali ini begitu tak bersahabat, mentari pun tak menampakkan diri, entah karena lelah atau keberadaannya yang terkadang dirindukan dan bahkan disesali, hanya ada dua insan diruangan yang tak cukup luas ini, terdiri dari tujuh perangkat komputer, dan bingkai foto yang tertata rapi ditembok, aku masih menjalankan program Adobe Photoshop sebagai pemula dan itu terlalu sulit, “ Sini aku ajarin ” jawabnya, meletakkan tangannya tepat diatas punggung tangan ku yang sedari tadi memainkan mouse, rasanya begitu lain ada sesuatu yang berbeda dan baru kali setelah delapan belas kali pertemuan, sstt retina ini saling bertemu pada satu titik, entah titik apa itu? ingin ku segera mengalihkan pandangan, namun sayang bola matamu terlalu indah, dan rasanya aku berada disuatu tempat yang benar-benar membuat ku merasa nyaman, aku sadar tangan kanan mu masih menyatu dengan tanganku, tanpa dikomando ada yang menyentuh halus pipi ku, “ aku merindukan mu sayang, !” Rindu? Sayang? Kata-kata itu terlalu asing ditelinga ku, dan kata-kata itulah yang akhirnya membawa ku ke realita, “ echm..echm..” sengaja aku pura-pura tersedak hanya untuk mencairkan suasana, aku tau betul, dia melihat ku menjadi sosok wanita yang selama ini pernah muncul dihidupnya, dan yang terakhir aku dengar wanita itu telah menikah dengan laki-laki lain.
            Sakit? Tentu saja, ketika kita mencintai seseorang tetapi terabaikan atau entahlah, tapi lebih sakit saat keberadaan kita terpaksa dianggap sama ketika mereka telah kehilangan sosok yang begitu berharga munurutnya, iya sebuah pelampiasan atau hanya disebut sebuah pelarian, dan akulah korbannya, aku yang terlalu bodoh menganggap semua itu tulus, bahkan aku terlambat menyadari kalau aku memang benar-benar bodoh hingga kebodohanku memaksa mencintainya, bahkan terlalu nyaman ketika panggilan special itu melayang ditelingaku, dan hanya dia.
******
            “ Happy Brith Day For Me ”, ya 19 tahun bukanlah waktu yang mudah untuk bertahan didunia ini, hanya sekedar bernapas. Aku tidak beda jauh dengan perempuan lainnya yang mengharap perlakuan special di hari ini, hah..rasanya terlalu sulit. Sampai detik ini aku masih mampu berdiri adalah hal terindah, itu saja sudah cukup banyak hal dibelakang sana yang begitu kelam hingga mengantarkan ku menjadi gadis gigih yang berusaha kuat memperjuangkan toga dikota perantauan, ya kota Gadis ( perdagangan, pendidikan dan industri) kota yang terkenal dengan kota pecel, kota yang menjadi saksi bisu korban keganasan peristiwa G 30 S PKI dan kota yang semakin membuka mata ku bahwa materialism, modernism, sekulerisme, konsumerisme, dan hedonisme itu benar-benar ada. Tegaknya aku hanya karena ayah, dan aku kuat hanya karena beliau, siapa yang bisa menganggap remeh makna seorang ayah, kecuali mereka yang belum mampu bersyukur ditengah kepahitan yang mendera. Ucapan selamat dari sang kasih tercinta, boneka, coklat, bunga, dinner, mandi adonan kue, atau bahkan di buly habis-habisan, hahh..rasanya sudah menjadi kado yang menjamur, itulah salah satu protes diriku yang sampai saat ini belum prnah menerima semua itu, walaupun hanya sebuah ucapan. Malam ini aku masih termenung, mengingat-ingat kasih tuhan yang selama ini belum aku syukuri, selalu minta dan meminta, bahkan menghardik-Nya ketika aku merasa diuji. Tuhan. Terlalu singkat hidup ini tapi dunia-Mu terlalu luas, “ Huacchh..” rasanya kantuk mulai menyerang, bahkan dihari yang special itu aku tetap harus berjuang, hanya sekedar untuk makan dan tidur secara gratis, tidak ingin protes. Aku menutup pintu, manarik gordin dan sedikit membuka jendela, sengaja memberi jalan masuk udara, aku tak bisa bernapas jika kamar ku harus tertutup rapat, hah, rasanya seperti mau mati, pengap. Secepat mungkin aku mematikan lampu, dan kutarik selimut untuk membalut tubuh ini, dingin, dan semakin dingin, bahkan malam mulai larut tak ada makhluk yang mengeluarkan suara lagi, aku masih belum bisa memejamkan mata, dada ini terlalu sesak, bahkan aku tak sanggup lagi menyembunyikan luka diruangan yang tak begitu luas ini, tapi tak pernah protes dengan segala keluh kesah ku. Bodohnya aku, terlalu berharap menjadi makmum dengan khusuknya berdiri dibelakang setiap kali menghadap sang khaliq, mencium punggung tangan mu setiap kali seperti yang aku mau sebagai tanda kebaktian ku, menunggu kecupan lembut mendarat dikening saat aku ingin menjemput mimpi, menjamu mu makan malam dan menemani mu saat engkau disibukkan oleh cahaya komputer sebagai tanggung jawab mu, wahai imam ku. “ hahaha…” aku mencoba tertawa, sakit! Mata ku yang terasa pedih ini masih memandangi beberapa kertas yang berserakan entah mengapa, salah satunya tertulis nama mu, sempat ku lirik sebentar dan akhirnya aku tak mampu, ketika ku temui sepasang wajah saling memandang begitu bahagia, harusnya itu aku. “ Huchhh.. ” aku mengeluh panjang, aku masih belum mampu untuk berhenti mencintai meski dalam diam.
            “ Assalamu’alaikum, mhon maaf sbelumnya dan langsung saja ya, kami sekeluarga mohon do’a restu karena insya allah tanggal 25 september saya akan menikah ”setidaknya itu isi pesan yang aku baca, samar-samar, mata ku mulai berkaca-kaca, Tuhan. hadiah mu terlalu indah. Hanya mampu berharap semoga engkau bahagia Akhi, biarkan aku abadi bersama rasa ini, dan tetap mencintai mu dalam diam, maaf, aku masih mengagumi mu, Khalifah Hati.

1 komentar: