Rabu, 07 September 2016



Past of moment

“Huacchh..” terpaksa aku harus menguap dan secepat mungkin aku menutupnya. jam menunjukkan pukul 04.00 pm. ku pandang suasana diluar yang dapat ditembus kaca tepat disamping tempat duduk ku.
Kabut, baru saja hujan mengguyur bumi, dingin, sesekali aku mencoba untuk mengembalikan konsentrasi ku mendengarkan ceramah yang mendominasi gaya mengajarnya, hah.. rasanya terlalu membosankan, ku tarik leher ini 30 derajat, cukup menjangkau bagian terbelakang dari ruang kelas yang tak begitu luas ini, mencoba mencari sumber kebisingan yang mengeruhkan telinga ku, namun pandangan ku terhenti saat sepasang bola mata itu menatap ku sekilas, begitu lain. aku pun segera mengalihkan pandanganku, seolah tidak terjadi apa-apa.Aku terdiam sesaat, mencoba kembali  berkonsentrasi tapi pikiran ku melayang terbawa tatapan mata yang begitu singkat dan membuat hati menahan kecewa.

Saat aku pernah merasa memilikinya, pernah menganggap dia ada dalam hidup ku,” Babz,.” sapanya setiap sms yang aku baca, aku pun tak sanggup untuk menyembunyikan rasa ini, memaksa ku menjalani hubungan tanpa status, hari demi hari berlalu dengan indah. disini aku mulai mengenali bahkan mengagumi sosok seorang dia, ”rela berkorban” mungkin point itulah yang kadang membuatku terpenjara dalam keyakinan yang salah. kadang aku merasa seakan perasaan telah mempermainkan ku, namun aku tak mampu untuk mencari kepastian.
Dingin, dan semakin dingin, ku tarik selimut, aku mencoba memejamkan mata, namun bayangan itu tetap mengusik, hingga memaksa ku meraih ponsel. ingin ku mengirim pesan singkat untuknya, namun rasanya terlalu malam, aku enggan mengganggu mimpi indahnya, yang mungkin aku ada di dalamnya.
Hubungan tanpa kepastian yang aku inginkan darinya ternyata menyiksa ku dalam diam, hingga waktu membawa ketidakpastian pada titik klimaks. dia diam, dan semakin diam lalu menjauh, aku pun mencoba melakukanya. tak pernah mengerti bahkan aku sengaja tak ingin mengerti apa yang buat dia berubah, menjauh dan begitu tak acuh hingga akhirnya kenyataan pahit pun harus aku telan.
“Hahaha…” sebuah tawa yang akhirnya mengejutkan ku dan memaksa membawa ku kembali pada realita, aku mencoba tersenyum menetralisir suasana, ku pandang teman di sekelilingku tak terkecuali guru yang di depan ku, begitu liar..! akankah mereka menertawakan ku? atau…ah aku pun tak ingin memperkeruh suasana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar