Past
of moment
“Huacchh..”
terpaksa aku harus menguap dan secepat mungkin aku menutupnya. jam menunjukkan pukul 04.00 pm. ku pandang suasana diluar yang dapat ditembus kaca tepat
disamping tempat duduk ku.
Kabut,
baru saja hujan mengguyur bumi, dingin, sesekali aku mencoba untuk
mengembalikan konsentrasi ku mendengarkan ceramah yang mendominasi gaya
mengajarnya, hah.. rasanya terlalu membosankan, ku tarik leher ini 30 derajat, cukup
menjangkau bagian terbelakang dari ruang kelas yang tak begitu luas ini, mencoba
mencari sumber kebisingan yang mengeruhkan telinga ku, namun pandangan ku
terhenti saat sepasang bola mata itu menatap ku sekilas, begitu lain. aku pun
segera mengalihkan pandanganku, seolah tidak terjadi apa-apa.Aku terdiam
sesaat, mencoba kembali berkonsentrasi
tapi pikiran ku melayang terbawa tatapan mata yang begitu singkat dan membuat
hati menahan kecewa.
Saat
aku pernah merasa memilikinya, pernah menganggap dia ada dalam hidup ku,” Babz,.”
sapanya setiap sms yang aku baca, aku pun tak sanggup untuk menyembunyikan rasa
ini, memaksa ku menjalani hubungan tanpa status, hari demi hari berlalu dengan
indah. disini aku mulai mengenali bahkan mengagumi sosok seorang dia, ”rela
berkorban” mungkin point itulah yang kadang membuatku terpenjara dalam
keyakinan yang salah. kadang aku merasa seakan perasaan telah mempermainkan ku,
namun aku tak mampu untuk mencari kepastian.
Dingin,
dan semakin dingin, ku tarik selimut, aku mencoba memejamkan mata, namun
bayangan itu tetap mengusik, hingga memaksa ku meraih ponsel. ingin ku mengirim
pesan singkat untuknya, namun rasanya terlalu malam, aku enggan mengganggu
mimpi indahnya, yang mungkin aku ada di dalamnya.
Hubungan
tanpa kepastian yang aku inginkan darinya ternyata menyiksa ku dalam diam, hingga
waktu membawa ketidakpastian pada titik klimaks. dia diam, dan semakin diam
lalu menjauh, aku pun mencoba melakukanya. tak pernah mengerti bahkan aku
sengaja tak ingin mengerti apa yang buat dia berubah, menjauh dan begitu tak
acuh hingga akhirnya kenyataan pahit pun harus aku telan.
“Hahaha…”
sebuah tawa yang akhirnya mengejutkan ku dan memaksa membawa ku kembali pada
realita, aku mencoba tersenyum menetralisir suasana, ku pandang teman di
sekelilingku tak terkecuali guru yang di depan ku, begitu liar..! akankah
mereka menertawakan ku? atau…ah aku pun tak ingin memperkeruh suasana.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar