Sabtu, 01 April 2017



“ Cinta satu kata, lima huruf tapi bermakna, cinta adalah milik mereka yang terus berjuang meskti tak dihargai, cinta itu buta, cinta itu penderitaan terindah yang dicari semua orang, cinta itu gila, cinta itu absurd, cinta itu kekuatan bahkan cinta itu lebih kental dari pada darah, kita ada karena cinta ”
            “ Juhhhh.. hah..kita ada karena cinta? ” apa tidak salah? terlalu indah kata-kata itu, bahkan terlalu disayangkan saat aku menginginkan sebuah ketenangan ini terlalu cepat. Bisa saja kehadiran mu adalah sebuah ketidaksengjaan, keterpaksaan bahkan sesuatu yang begitu disesali, nihil, dan itu semua adalah aku. Aku masih mematung, mengedarkan pandangan ku mencari sisa-sisa, kabut. Baru saja hujan mengguyur, yang aku paham, hujan tak pernah tahu dimana ia akan jatuh, ia hanya berharap jatuh ditempat yang tepat, tidak seperti aku, sengaja dijatuhkan. Hujan hanya 1 % dari siklus hidrologi, sisanya adalah  kenangan-kenangan miris yang sulit, bahkan mustahil untuk dilupakan.      
            Yee… Ye… hujan..! aku masih bersorak kegirangan, apa sih indahnya hujan? Paling-paling aku hanya akan basah-basahan dan setelah itu dimarahi papa, atau bahkan aku terserang demam. Ya.. seperti anak kecil lainnya selalu senang disaat hujan turun, tidak memilih diam dirumah, tidur atau memanaskan tubuh karena cuaca dingin, justru aku terlarut bersama hujan dengan girangnya, disisi lain mereka mengeluh, menggerutu, mengutuk, menyalahkan bahkan teriak tidak terima, apa sih salah hujan? Itu pikir ku, dulu. Anggapan bahwa hujan adalah satu-satu nya hal yang mampu membunuh waktu bahkan membuat waktu terbuang percuma itu benar, bagaimana tidak? Karena hujan, mereka kehilangan kesempatan untuk meraup rupiah dan terpaksa mendiamkan diri dibalik genting, hanya karena tidak mau basah, dingin dan lainnya, karena hujan dengan iklasnya mereka menghangatkan tubuh, membuang waktu yang tanpa kita sadari terus berjalan hanya saja berjalan dengan percuma, karena hujan membuat mereka mengingat-ingat entah kejadian apa yang terselip disetiap tetesan air itu. Ya… itu mereka, yang sudah mampu bermain dengan logika.
            Saat itu aku masih tertawa, lari sana, lari sini, telanjang, menggali tanah, bersorak gembira, sok jadi ikan duyung lah dan begitu bahagianya ketika hujan turun, itu sepuluh tahun yang lalu, saat aku belum menyadari sepenuhnya makna kehadiran, kehilangan, dan bagaimana kerasnya hidup. Yah.. bukan seperti sekarang, gadis malang, terdampar ditengah hutan yang sebelumnya aku telah belajar, tapi tetap saja itu terlalu keras dan semua begitu manis mereka rencanakan. “ heehh …aku ingin pulang tuhan ” keluh ku lirih, bahkan aku tak mampu mendengarnya, aku tak tahu arah, dan aku tak tahu dibelahan bumi mana ku berada, yang aku tahu waktu telah berubah menjadi WIB, dan yang sempat aku baca “ selamat datang di kota gadis ”. hah..kota gadis, kota apa itu? Atau jangan-jangan kota, segera ku buang pikiran negative lalu ku putuskan untuk browsing sebelum aku terlalu jauh beranggapan salah. Kota yang dikenal dengan sebutan kota pecel, menu sederhana yang bisa dinikmati semua orang, terdiri dari sayuran hijau yang menyehatkan ditambah saos bumbu kacang dan sepotong tempe goreng hangat, hmm yummy.. tidak jauh nikmatnya dengan Pizza, makanan yang sengaja dibuat special untuk mereka kaum borjuis, hanya sebuah rasa yang sudah lihay mempermainkan lidah, dasar, diskriminant!.  Rasa penasaran itu mulai mengebu, bahkan sudah banyak pertanyaan yang antri diotak ini, tapi aku memilih diam, perjalanan ini terlalu melelahkan, ku lirik dia, masih tertidur pulas, walaupun kami sempat tukar kendaraan setelah cukup lama menggunakan jasa kereta.
***
            “ Kamu itu lho, datang-datang ngrepotin, tadi kemana aja, tidur terus ”. kata-kata kasar itu malayang tanpa beban, masuk telinga kiri keluar telinga kanan, aku terlalu kebal tuhan, mungkin karena Engkau menciptakan hati ini sengaja untuk merasakan hal-hal yang menyakitkan. “ maaf ma, aku capek lah ”, lebih dari itu, seharusnya. Aku masih terdiam berusah kuat, hei mata, kamu kenapa? Sudahlah, hentikan semuanya, tidak ada guna, toh mereka tidak akan pernah mengerti, keluarkan saat kamu benar-benar membutuhkannya, umpat ku kuat-kuat, dada ku terasa sesak entah menahan perasaan yang mana, kecewa, sedih, menyesal, atau lelah? sudahlah, aku hanya mampu menghela napas panjang dan melanjutkan aktifitas ku.
            Hanya ada satu dari sekian milyaran makhluk, mereka yang tak pernah protes, mereka yang dengan rela melihat kita bahagia, bahkan mereka yang tak pernah menuntut disaat kita tertawa, dan hanya ada satu, lembaran yang tak lagi putih bersih, jika saja kamu punya otak dan mulut, pasti sudah sejak dulu kau meneriak’i ku, bodoh! Bisa saja mereka menerima semua keluhan, tetesan air mata jernih mu, tapi apakah mereka akan tetap diam dan membiarkan mu terus mengumpat?, salah. Tangan ku mulai meraih pena dan buku kusut itu, menulis dan menulis lagi, cukup! kalau saja mereka menuliskan hal-hal indah, kado ulang tahun, jalan-jalan keluar negeri, lain dengan ku, rasanya hal itu sudah biasa, aku terlalu kuat hingga tuhan menyuruh ku menulis hal-hal yang menyakitkan. Aku masih saja menggoreskan pena, namun apa yang harus aku tulis? karena semua sama, tuhan, hanya satu “ aku ingin pulang ! ”.
*****
            Nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan, ya.. aku bisa mengiyakan pernyataan itu, bahkan aku berharap tidak pernah hadir didunia ini, andai aku boleh memilih.. hah semua sudah terlambat. Apakah aku harus mengakhirinya? Siapa yang harus aku salahkan? Tuhan. Pantaskah aku menghardik-Mu, menolak semua takdir-Mu, menganggap-Mu tidak adil? Bahkan aku selalu mencari-cari sebab mengapa Engkau menghukum ku sepicik ini, apa aku terlalu kuat Tuhan?, teriak ku membatin. Apa aku tidak pantas bahagia? Lalu untuk apa tuhan menghadirkan ku di dunia yang fana ini, bahan lecehan? Tontonan? Jemput aku Tuhan, lelah. Jam tua di dinding sudah menunjukkan pukul 02.00 pm, ini bukan kali pertama aku tidak bisa memejamkan mata, rasanya ingin sekali tidur pulas, dan tak kembali selamanya.
            Lalu dimana sosok seorang ibu? Orang yang pernah memunculkan ku didunia yang fana ini, tidakah engkau sedikit mengkhawatiirkan ku ibu? Menanyakan bagaimana kondisiku? Jangankan meminta ku pulang, hanya sekedar bertanya “ Nak, sudah makan, nak, sehat, Ibu kangen ” itu saja terlalu mustahil, dimana kasih mu ibu? Seberapa besar salah ku, hingga keberadaan ku tak pernah kau anggap ada? Atau memang kau benar-benar sudah menganggap ku tidak ada? sakit!  Andai saja saat ini aku memegang rupiah, setidaknya aku bisa mendengar suara mu ibu, pujian semu mu, bahkan pengakuan sesasat sebagai anakmu, sayang! Aku masih terlalu belia, 16 tahun bukanlah waktu yang mengharuskan ku mengejar rupiah ibu, 16 tahun adalah usia yang harusnya menikmati indahnya masa putih abu-abu, mengejar mimpi, menggapai cita, jalan bareng teman dan hal-ha indah lainnya seperti di film-film yang pernah aku lihat walaupun itu hanya setting’an. Ya setting’an layaknya hidup ku, yang entah disutradarai siapa, yang aku tahu aku hanya aktris malang yang tak pernah digaji dan tak tahu pasti kapan film ini akan tamat bahkan lawan main ku terlalu, ah sudahlah, kenyataan ini memaksa ku dewasa sebelum waktunya.
            Aku masih terdiam, menahan sesak, sudah terlalu lelah jika harus menangis, menangis dan hanya menangis, bahkan rasanya air mata ini sudah terkuras habis. Ingin ku mengadu, tapi siapa yang mau mendengarkan keluhan tak berharga ini. Papa? Ah, rasanya tak mungkin, sejak kejadian itu papa begitu asing, bahkan aku tidak mengenal lagi sosok seorang papa, papa yang dulu selalu membawa ku pergi dibelahan bumi manapun dia singgah, papa yang tak pernah tutup telinga saat aku mengoceh tanpa arti, dan papa yang dengan segalanya, “ papa sayang kamu nak, ” ya itu dulu, jauh sebelum wanita mun*fik itu muncul.
            “ Dasar, anak anj*ng, mau jadi apa kamu, haa?” suara itu melayang tanpa beban ditelinga ku, terlalu kasar, baru kali ini papa menyebut ku demikian, anak anj*ng, terlalu hina, lantas siapa yang melahirkan ku dan membesarkan ku? Selama ini aku tidak di asuh oleh induk anj*ng, tapi papa. Menangis, hanya itu yang aku mampu setelah papa menutup telepon tanpa permisi. Hidup ini tak adil, jka mereka bisa bahagia kenapa tidak denganku? Katanya hidup adalah pilihan, kenapa aku tak berhak memilihnya walaupun sekedar memilih untuk tidak memilih, kenapa? Sumpah, aku benar-benar tidak tahu apa yang direncanakan-Nya, lalu mana janji-Mu Tuhan yang katanya semua kan indah pada waktunya, tapi kapan? 16 tahun bukanlah waktu yang singkat, aku benci itu!  Sebenarnya aku hanya tidak ingin papa semakin di tekan oleh mereka, mana mungkin aku tidak ingin sekolah? Tapi aku mencoba mengubur dalam-dalam, tak bisa dibayangkan jika aku harus menghabiskan uang mereka, butuh waktu berapa lama lagi mereka akan mempermainkan ku seperti boneka, tapi papa tak pernah mau tahu apa maksud ku, aku hanya tidak ingin papa , ahh sudahlah, aku masih ingat betul sore itu mereka menanyakan sesuatu yang ku rasa hanya percuma, 55 juta, sebanyak itu hutang papa ku ke mereka? Aneh, bukankah mereka sudah berkeluarga, aku tidak tahu apa-apa lagi selebihnya, jauh sebelum ini aku tidak hidup bersama mereka, bahkan aku baru tahu selama ini papa mendekam dipenjara, pantaskah mereka menyalahkan ku, menghardik ku, katanya aku pembawa sial dalam hubungan mereka, padahal selama dua tahun terakhir aku tengah memperjuangkan hidup ku seorang diri, dan lagi-lagi aku ingin pulang, tapi tak tahu kemana aku harus pulang, mereka semua tidak ada yang mengharapkan ku. Saat itu aku bersusah payah menghubungi papa, tapi nihil, semua nomor yang aku punya ternyata sudah tidak aktif, puluhan pesan yang ku kirimkan lewat facebook tak pernah dibalasnya sama sekali, dan aku tidak pernah tau dibelahan bumi mana papa ku berada saat itu, dan akhirnya mereka menuduh ku tidak peduli, lagi-lagi papa harus berhutang budi tanpa sengaja
*****
            Huh.. bosan, jika aku harus hidup normal seperti mereka, tidur, bangun, kerja, jalan-jalan dan begitu seterusnya, sesekali menjadi orang tidak peduli itu indah, membiarkan waktu berlalu dengan percuma, membiarkan mata ini tertutup rapat, belagak bego’ dan sama sekali tidak memperdulikan kenyataan itu ternyata indah dan sampai akhirnya aku menyadari bahwa waktu bisa merubah apapun kecuali aku.
            Hari ini aku cukup bahagia Tuhan, Engkau mengizinkan hamba layaknya seperti mereka, gadis beruntung yang bernapas ditengah sosok malaikat yang selalu menjaga dan bidadari yang selalu tersenyum tulus tanpa noda, yah walaupun aku tahu betul ini hanya kebahagiaan semu, sesaat dan sebentar lagi semua akan kembali seperti biasa. “ Dek.. makan dulu” suaranya begitu lembut mengalun merdu tertangkap ditelinga ku nyaris sempurna. “ iya maa..”. Aku beranjak keluar setelah cukup lama membereskan kamar, sengaja hari ini aku menyibukkan diri akibat mood yang lumayan bagus, “masak apa ma?” Tanya ku seceria mungkin, aku tak mungkin melewatkan moment  langka seperti ini, aku bisa menebak, pasti papa telah melakukan sesuatu dari  kejauhan sana. Terimakasih papa setidaknya aku tahu apa itu bahagia ucapku membatin. Dan ternyata benar, sore tadi tanpa sengaja aku mendengar percakapan papa dan mama melalui via suara, kasih sayang seorang mama tiri hanya bisa di beli dengan uang, iya benar, ternyata ini alasan mama terkadang memperlakukan ku sedikit seperti anaknya? Itupun kalau papa mentrasnfer uang, jika tidak semuanya akan kembali seperti neraka, jahanam! Aku mengumpat dalam hati, menumpahkan air mata, meratapi kerasnya hidup dan sampai saat ini juga aku masih belum paham apa rencana Tuhan selanjutnya? Bodoh, aku ingin pulang. Pulang? Iya pulang, apakah itu pilihan yang tepat? Tentu saja, lalu aku harus pulang kemana? Kecuali ketempat yang ditakuti semua orang, keabadian! Tempat dimana aku tak akan lagi menyaksikan indahnya sandiwara manusia, tempat yang mungkin bisa memberiku sedikit ketenangan, jemput aku Tuhan, aku lelah dengan scenario Mu yang terlalu indah, seperti janji-Mu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar