“ Cinta satu kata, lima huruf tapi bermakna, cinta
adalah milik mereka yang terus berjuang meskti tak dihargai, cinta itu buta,
cinta itu penderitaan terindah yang dicari semua orang, cinta itu gila, cinta
itu absurd, cinta itu kekuatan bahkan cinta itu lebih kental dari pada darah,
kita ada karena cinta ”
“ Juhhhh.. hah..kita ada karena
cinta? ” apa tidak salah? terlalu indah kata-kata itu, bahkan terlalu
disayangkan saat aku menginginkan sebuah ketenangan ini terlalu cepat. Bisa
saja kehadiran mu adalah sebuah ketidaksengjaan, keterpaksaan bahkan sesuatu
yang begitu disesali, nihil, dan itu semua adalah aku. Aku masih mematung,
mengedarkan pandangan ku mencari sisa-sisa, kabut. Baru saja hujan mengguyur, yang
aku paham, hujan tak pernah tahu dimana ia akan jatuh, ia hanya berharap jatuh
ditempat yang tepat, tidak seperti aku, sengaja dijatuhkan. Hujan hanya 1 %
dari siklus hidrologi, sisanya adalah kenangan-kenangan miris yang sulit, bahkan
mustahil untuk dilupakan.
Yee… Ye… hujan..! aku masih bersorak
kegirangan, apa sih indahnya hujan? Paling-paling aku hanya akan basah-basahan
dan setelah itu dimarahi papa, atau bahkan aku terserang demam. Ya.. seperti
anak kecil lainnya selalu senang disaat hujan turun, tidak memilih diam
dirumah, tidur atau memanaskan tubuh karena cuaca dingin, justru aku terlarut
bersama hujan dengan girangnya, disisi lain mereka mengeluh, menggerutu,
mengutuk, menyalahkan bahkan teriak tidak terima, apa sih salah hujan? Itu
pikir ku, dulu. Anggapan bahwa hujan adalah satu-satu nya hal yang mampu
membunuh waktu bahkan membuat waktu terbuang percuma itu benar, bagaimana
tidak? Karena hujan, mereka kehilangan kesempatan untuk meraup rupiah dan
terpaksa mendiamkan diri dibalik genting, hanya karena tidak mau basah, dingin
dan lainnya, karena hujan dengan iklasnya mereka menghangatkan tubuh, membuang
waktu yang tanpa kita sadari terus berjalan hanya saja berjalan dengan percuma,
karena hujan membuat mereka mengingat-ingat entah kejadian apa yang terselip
disetiap tetesan air itu. Ya… itu mereka, yang sudah mampu bermain dengan
logika.
Saat itu aku masih tertawa, lari
sana, lari sini, telanjang, menggali tanah, bersorak gembira, sok jadi ikan
duyung lah dan begitu bahagianya ketika hujan turun, itu sepuluh tahun yang
lalu, saat aku belum menyadari sepenuhnya makna kehadiran, kehilangan, dan
bagaimana kerasnya hidup. Yah.. bukan seperti sekarang, gadis malang, terdampar
ditengah hutan yang sebelumnya aku telah belajar, tapi tetap saja itu terlalu
keras dan semua begitu manis mereka rencanakan. “ heehh …aku ingin pulang tuhan
” keluh ku lirih, bahkan aku tak mampu mendengarnya, aku tak tahu arah, dan aku
tak tahu dibelahan bumi mana ku berada, yang aku tahu waktu telah berubah
menjadi WIB, dan yang sempat aku baca “ selamat datang di kota gadis ”.
hah..kota gadis, kota apa itu? Atau jangan-jangan kota, segera ku buang pikiran
negative lalu ku putuskan untuk browsing sebelum
aku terlalu jauh beranggapan salah. Kota yang dikenal dengan sebutan kota
pecel, menu sederhana yang bisa dinikmati semua orang, terdiri dari sayuran
hijau yang menyehatkan ditambah saos bumbu kacang dan sepotong tempe goreng hangat,
hmm yummy.. tidak jauh nikmatnya dengan Pizza, makanan yang sengaja dibuat
special untuk mereka kaum borjuis, hanya sebuah rasa yang sudah lihay
mempermainkan lidah, dasar, diskriminant!. Rasa penasaran itu mulai mengebu, bahkan sudah
banyak pertanyaan yang antri diotak ini, tapi aku memilih diam, perjalanan ini
terlalu melelahkan, ku lirik dia, masih tertidur pulas, walaupun kami sempat
tukar kendaraan setelah cukup lama menggunakan jasa kereta.
***
“ Kamu itu lho, datang-datang
ngrepotin, tadi kemana aja, tidur terus ”. kata-kata kasar itu malayang tanpa
beban, masuk telinga kiri keluar telinga kanan, aku terlalu kebal tuhan,
mungkin karena Engkau menciptakan hati ini sengaja untuk merasakan hal-hal yang
menyakitkan. “ maaf ma, aku capek lah ”, lebih dari itu, seharusnya. Aku masih
terdiam berusah kuat, hei mata, kamu kenapa? Sudahlah, hentikan semuanya, tidak
ada guna, toh mereka tidak akan pernah mengerti, keluarkan saat kamu
benar-benar membutuhkannya, umpat ku kuat-kuat, dada ku terasa sesak entah
menahan perasaan yang mana, kecewa, sedih, menyesal, atau lelah? sudahlah, aku
hanya mampu menghela napas panjang dan melanjutkan aktifitas ku.
Hanya ada satu dari sekian milyaran
makhluk, mereka yang tak pernah protes, mereka yang dengan rela melihat kita
bahagia, bahkan mereka yang tak pernah menuntut disaat kita tertawa, dan hanya
ada satu, lembaran yang tak lagi putih bersih, jika saja kamu punya otak dan
mulut, pasti sudah sejak dulu kau meneriak’i ku, bodoh! Bisa saja mereka
menerima semua keluhan, tetesan air mata jernih mu, tapi apakah mereka akan
tetap diam dan membiarkan mu terus mengumpat?, salah. Tangan ku mulai meraih
pena dan buku kusut itu, menulis dan menulis lagi, cukup! kalau saja mereka
menuliskan hal-hal indah, kado ulang tahun, jalan-jalan keluar negeri, lain
dengan ku, rasanya hal itu sudah biasa, aku terlalu kuat hingga tuhan menyuruh
ku menulis hal-hal yang menyakitkan. Aku masih saja menggoreskan pena, namun
apa yang harus aku tulis? karena semua sama, tuhan, hanya satu “ aku ingin
pulang ! ”.
*****
Nasib terbaik adalah tidak pernah
dilahirkan, ya.. aku bisa mengiyakan pernyataan itu, bahkan aku berharap tidak
pernah hadir didunia ini, andai aku boleh memilih.. hah semua sudah terlambat. Apakah
aku harus mengakhirinya? Siapa yang harus aku salahkan? Tuhan. Pantaskah aku
menghardik-Mu, menolak semua takdir-Mu, menganggap-Mu tidak adil? Bahkan aku
selalu mencari-cari sebab mengapa Engkau menghukum ku sepicik ini, apa aku
terlalu kuat Tuhan?, teriak ku membatin. Apa aku tidak pantas bahagia? Lalu
untuk apa tuhan menghadirkan ku di dunia yang fana ini, bahan lecehan?
Tontonan? Jemput aku Tuhan, lelah. Jam tua di dinding sudah menunjukkan pukul
02.00 pm, ini bukan kali pertama aku tidak bisa memejamkan mata, rasanya ingin
sekali tidur pulas, dan tak kembali selamanya.
Lalu dimana sosok seorang ibu? Orang
yang pernah memunculkan ku didunia yang fana ini, tidakah engkau sedikit
mengkhawatiirkan ku ibu? Menanyakan bagaimana kondisiku? Jangankan meminta ku
pulang, hanya sekedar bertanya “ Nak, sudah makan, nak, sehat, Ibu kangen ” itu
saja terlalu mustahil, dimana kasih mu ibu? Seberapa besar salah ku, hingga
keberadaan ku tak pernah kau anggap ada? Atau memang kau benar-benar sudah
menganggap ku tidak ada? sakit! Andai
saja saat ini aku memegang rupiah, setidaknya aku bisa mendengar suara mu ibu,
pujian semu mu, bahkan pengakuan sesasat sebagai anakmu, sayang! Aku masih
terlalu belia, 16 tahun bukanlah waktu yang mengharuskan ku mengejar rupiah
ibu, 16 tahun adalah usia yang harusnya menikmati indahnya masa putih abu-abu,
mengejar mimpi, menggapai cita, jalan bareng teman dan hal-ha indah lainnya
seperti di film-film yang pernah aku lihat walaupun itu hanya setting’an. Ya setting’an layaknya hidup ku, yang entah disutradarai siapa, yang
aku tahu aku hanya aktris malang yang tak pernah digaji dan tak tahu pasti
kapan film ini akan tamat bahkan lawan main ku terlalu, ah sudahlah, kenyataan
ini memaksa ku dewasa sebelum waktunya.
Aku masih terdiam, menahan sesak,
sudah terlalu lelah jika harus menangis, menangis dan hanya menangis, bahkan
rasanya air mata ini sudah terkuras habis. Ingin ku mengadu, tapi siapa yang
mau mendengarkan keluhan tak berharga ini. Papa? Ah, rasanya tak mungkin, sejak
kejadian itu papa begitu asing, bahkan aku tidak mengenal lagi sosok seorang
papa, papa yang dulu selalu membawa ku pergi dibelahan bumi manapun dia
singgah, papa yang tak pernah tutup telinga saat aku mengoceh tanpa arti, dan
papa yang dengan segalanya, “ papa sayang kamu nak, ” ya itu dulu, jauh sebelum
wanita mun*fik itu muncul.
“ Dasar, anak anj*ng, mau jadi apa
kamu, haa?” suara itu melayang tanpa beban ditelinga ku, terlalu kasar, baru
kali ini papa menyebut ku demikian, anak anj*ng, terlalu hina, lantas siapa yang
melahirkan ku dan membesarkan ku? Selama ini aku tidak di asuh oleh induk
anj*ng, tapi papa. Menangis, hanya itu yang aku mampu setelah papa menutup
telepon tanpa permisi. Hidup ini tak adil, jka mereka bisa bahagia kenapa tidak
denganku? Katanya hidup adalah pilihan, kenapa aku tak berhak memilihnya
walaupun sekedar memilih untuk tidak memilih, kenapa? Sumpah, aku benar-benar
tidak tahu apa yang direncanakan-Nya, lalu mana janji-Mu Tuhan yang katanya
semua kan indah pada waktunya, tapi kapan? 16 tahun bukanlah waktu yang
singkat, aku benci itu! Sebenarnya aku
hanya tidak ingin papa semakin di tekan oleh mereka, mana mungkin aku tidak
ingin sekolah? Tapi aku mencoba mengubur dalam-dalam, tak bisa dibayangkan jika
aku harus menghabiskan uang mereka, butuh waktu berapa lama lagi mereka akan
mempermainkan ku seperti boneka, tapi papa tak pernah mau tahu apa maksud ku,
aku hanya tidak ingin papa , ahh sudahlah, aku masih ingat betul sore itu
mereka menanyakan sesuatu yang ku rasa hanya percuma, 55 juta, sebanyak itu
hutang papa ku ke mereka? Aneh, bukankah mereka sudah berkeluarga, aku tidak
tahu apa-apa lagi selebihnya, jauh sebelum ini aku tidak hidup bersama mereka,
bahkan aku baru tahu selama ini papa mendekam dipenjara, pantaskah mereka
menyalahkan ku, menghardik ku, katanya aku pembawa sial dalam hubungan mereka,
padahal selama dua tahun terakhir aku tengah memperjuangkan hidup ku seorang
diri, dan lagi-lagi aku ingin pulang, tapi tak tahu kemana aku harus pulang,
mereka semua tidak ada yang mengharapkan ku. Saat itu aku bersusah payah
menghubungi papa, tapi nihil, semua nomor yang aku punya ternyata sudah tidak
aktif, puluhan pesan yang ku kirimkan lewat facebook tak pernah dibalasnya sama
sekali, dan aku tidak pernah tau dibelahan bumi mana papa ku berada saat itu,
dan akhirnya mereka menuduh ku tidak peduli, lagi-lagi papa harus berhutang
budi tanpa sengaja
*****
Huh.. bosan, jika aku harus hidup
normal seperti mereka, tidur, bangun, kerja, jalan-jalan dan begitu seterusnya,
sesekali menjadi orang tidak peduli itu indah, membiarkan waktu berlalu dengan
percuma, membiarkan mata ini tertutup rapat, belagak bego’ dan sama sekali
tidak memperdulikan kenyataan itu ternyata indah dan sampai akhirnya aku menyadari
bahwa waktu bisa merubah apapun kecuali aku.
Hari ini aku cukup bahagia Tuhan,
Engkau mengizinkan hamba layaknya seperti mereka, gadis beruntung yang bernapas
ditengah sosok malaikat yang selalu menjaga dan bidadari yang selalu tersenyum
tulus tanpa noda, yah walaupun aku tahu betul ini hanya kebahagiaan semu,
sesaat dan sebentar lagi semua akan kembali seperti biasa. “ Dek.. makan dulu”
suaranya begitu lembut mengalun merdu tertangkap ditelinga ku nyaris sempurna.
“ iya maa..”. Aku beranjak keluar setelah cukup lama membereskan kamar, sengaja
hari ini aku menyibukkan diri akibat mood
yang lumayan bagus, “masak apa ma?” Tanya ku seceria mungkin, aku tak
mungkin melewatkan moment langka seperti ini, aku bisa menebak, pasti
papa telah melakukan sesuatu dari
kejauhan sana. Terimakasih papa
setidaknya aku tahu apa itu bahagia ucapku membatin. Dan ternyata benar,
sore tadi tanpa sengaja aku mendengar percakapan papa dan mama melalui via
suara, kasih sayang seorang mama tiri
hanya bisa di beli dengan uang, iya benar, ternyata ini alasan mama
terkadang memperlakukan ku sedikit seperti anaknya? Itupun kalau papa
mentrasnfer uang, jika tidak semuanya akan kembali seperti neraka, jahanam! Aku mengumpat dalam hati,
menumpahkan air mata, meratapi kerasnya hidup dan sampai saat ini juga aku
masih belum paham apa rencana Tuhan selanjutnya? Bodoh, aku ingin pulang.
Pulang? Iya pulang, apakah itu pilihan yang tepat? Tentu saja, lalu aku harus
pulang kemana? Kecuali ketempat yang ditakuti semua orang, keabadian! Tempat
dimana aku tak akan lagi menyaksikan indahnya sandiwara manusia, tempat yang
mungkin bisa memberiku sedikit ketenangan, jemput aku Tuhan, aku lelah dengan
scenario Mu yang terlalu indah, seperti janji-Mu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar