Rabu, 09 Agustus 2017
Hanya Hari Ini
Hiduplah Indonesia raya… !
Bagaimana Indonesia mau hidup? Indonesia yang katanya Negara hukum, Negara demokrasi dan Negara yang katanya menjujung tinggi nilai kesatuan. Indonesi, Negara yang menyatakana bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa ku, merah putih adalah bendera ku, pancasila ideologiku, UUD konstitusi ku, dan 17 Agustus hari kemerdekaan ku. Negara yang katanya kaya raya, memiliki ribuan pulau belum berpenghuni, lautan luas tak terbatas, Negara yang dijuluki agraris, maritime, jamrud khatulistiwa, heterogen, adaptif, dan Negara Indonesia yang katanya kumuh, miskin, koruptor. Hahaha.. buat apa pusing-pusing menyebutkan istilah yang cocok untuk negeri ini? toh, sudah ada sila ke- 4 yang mewakili aspirasi rakyat. Rakyat? Iya.. rakyat lemah yang tidak bisa mengelak disaat harus menerima apa-apa karena tidak tahu apa-apa, Yah.. begitulah. Kita sudah merdeka katanya. Nyata nya hanya sebagian orang saja yang menikmati kata-kata merdeka, orang-orang yang mampu bertahan ditengah hukum rimba, orang-orang yang menghamba pada uang, dan orang-orang yang mencari sisa-sisa hati di tengah negri individualism, begitu menyakitkan ketika mereka harus kembali merangkak disaat mereka sudah mampu berjalan.
Yaa… demam kemerdekaan, menjunjung tinggi merah putih, menghormat bahkan menganggungkan Indonesia yang katanya 71 tahun telah merdeka. Hari yang tanpa malu-malu cukup untuk mengingat jasa-jasa pahlawan, hanya mengingat? Iya, mengingat pun kalau mau, itu saja sudah cukup. Lagu-lagu nasional hari ini diperdengarkan, terlalu asing, dan itu tidak bertahan lama, lihat saja esok, jika matahari mau terbit lagi, bendera ku sudah turun, yang ada hanya banner promosi obral janji para pemuas nafsu, lagu kebangsaan tak terdengar lagi, yang ada hanya syair-syair lagu yang harusnya tidak diperdengarkan, syair-syair yang menina bobokan generasi emas untuk memerdekakan bangsa ini, tidak ada lagi chanel-chanel tv yang menyoroti masa lalu, yang ada hanya gossip-gosip para public figure yang justru merusak moral tetapi selalu saja dikagumi dan memiliki jutaan follower dan di idolakan, hah.. terlalu fana.
11,3 miliar atau entah terbilang berapa, yang jelas sulit untuk mencari transparasi. Berapa jika ditukarkan dengan uang receh lima ribuan? Yang menurut mereka begitu berharga untuk menyambung hidup sekedar bertahan di Negara yang katanya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Sempatkah kalian berpikir dimana kami waktu itu? Bisa kah kami turut berbahagia, berdiri tegak, khidmat menghormat sang merah putih di istana Negara? Bisa kah kami duduk manis di kursi empuk yang didesain khusus untuk orang-orang borjuis? Bisa kah kami bersanding dengan mereka orang-orang ber-title? Sementara itu, kami tidak pernah berhenti, mengais mencari sisa-sisa rupiah, bukan berarti kami tidak pernah bermimpi, hanya saja untuk saat ini hal yang terpenting adalah apa yang dapat kami makan hari ini dan besok, itu saja sudah terlalu berat, bapak. Sudikah engkau, menerima tawaran kami menukar nasib 1 jam saja, agar kami bisa merasakan kemerdekaan itu bagaimana? Sudikah engkau, menengok kami disela-sela kesibukan mu memburu keabadian zaman, perubahan. Biarkan kami tetap buta dan tuli akan kemerdekaan hari ini, toh kami memang tak pernah MERDEKA.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar